Rabu, 05 Oktober 2016

EVALUASI DARI PROGRAM PENDIDIKAN KARAKTER BERBASIS SASTRA (Jurnal James S Leming)



EVALUASI DARI PROGRAM PENDIDIKAN KARAKTER BERBASIS SASTRA
Oleh James S Leming

Disusun oleh 
Muhammad Syamsuddin
Mahasiswa Pascasarjana IAIN Pekalongan
2016


A.    ISI JURNAL EVALUASI DARI PROGRAM PENDIDIKAN KARAKTER BERBASIS SASTRA OLEH JAMES S LEMING
Artikel ini melaporkan hasil evaluasi program pendidikan karakter. Sampel terdiri dari 965 pertama untuk kelas enam di dua kabupaten sekolah terpencil di Amerika Serikat. Sebuah desain penelitian eksperimental dipergunakan. Ditemukan bahwa kurikulum memiliki efek positif pada hasil kognitif, tetapi lebih hasil yang beragam yang ditemukan pada hasil afektif dan perilaku. Analisis regresi pada dimensi ruang kelas yang dipilih menemukan bahwa penekanan pada hal-hal karakter seluruh kurikulum kontribusi besar untuk mencapai hasil karakter. Akhirnya, peran penting teori dalam pengembangan dan peningkatan program pendidikan karakter dibahas.
Kurangnya perspektif teoritis eksplisit dan kurikulum pendidikan karakter, dan implikasi untuk menafsirkan penelitian dan membangun program yang efektif yang dibahas. Salah satu gerakan reformasi pendidikan penting dari tahun 1990-an yakni pendidikan karakter, dapat ditemukan di kalangan orang Amerika bahwa krisis ada berkaitan dengan karakter anak muda. Pada pertengahan 1980-an gerakan itu ditandai dengan pengembangan berbagai macam program pendidikan karakter oleh organisasi nasional maupun oleh distrik sekolah setempat.
Baru-baru ini, gerakan pendidikan karakter ini sudah mulai fokus pada evaluasi karakter program pendidikan. Bahwa nilai-nilai budaya yang paling sering diberikan bentuk dan bermakna dalam kehidupan anak-anak. MacIntyre (1981) Salah satu program pendidikan karakter terkenal dari tahun 1990-an yang berjudul  "Sebuah Kurikulum Etika untuk Anak". Kurikulum dengan pendekatan multikultural, berbasis literatur untuk pengajaran nilai-nilai etika. Kurikulum ini memuat tujuh nilai-nilai etika yang universal: keberanian, kesetiaan, keadilan, menghormati, harapan, kejujuran dan cinta.

B.     HASIL PENELITIAN JAMES S LEMING
Temuan dari evaluasi ini menunjukkan bahwa guru dari pendekatan pendidikan karakter yang melintasi semua aspek kurikuler yang merupakan komponen penting dari program pendidikan karakter yang efektif. Penelitian ini menjadi berarti dan untuk memajukan pemikiran sistematis tentang pengetahuan di lapangan, harus akhirnya ditafsirkan dari beberapa teori atau konseptual kerangka acuan.
Empat perspektif teoritis dilihat pada hubungan antara eksperimen sastra dengan tema moral dan perkembangan moral dapat ditemukan dalam karya ilmiah. Pertama dari perspektif ini didasarkan pada fenomenologis analisis tentang bagaimana narasi yang mengandung muatan moral mempengaruhi perkembangan moral. Wilson (1994) ketika ia berpendapat bahwa cerita moral yang mempengaruhi kita dalam tiga cara: dengan menyampaikan pesan, membangkitkan sentimen, atau memperbesar alam semesta. Wilson berpendapat bahwa pesan paling umum yang disampaikan oleh cerita adalah salah satu konsekuensi; hal-hal baik terjadi pada orang yang melakukan hal-hal baik, hal-hal buruk kepada orang-orang yang melakukan hal-hal buruk.
Dikatakan bahwa cerita tersebut hidup dan mengesankan. Wilson berpendapat, membangkitkan sentimen kita atas orang-orang yang telah sangat menderita atau mengalami kemenangan besar dalam keadaan kita tidak pernah dapat di diri kita sendiri. Di sebuah kata, cerita-cerita ini menyentuh kita secara emosional dengan kita mengalami kehidupan lain. Mereka membangkitkan di dalam kita sentimen moral. Akhirnya, ini cerita memperbesar alam semesta kita dan membiasakan kita untuk meng-universalitas kondisi manusia dan peran yang menyatukan kita semua.
Sebuah perspektif dilihat kedua pada hubungan antara pengalaman literatur dengan tema moral dan perkembangan moral berasal dari Kohlberg kognitif teori tahap perkembangan perkembangan moral (Kohlberg, 1981, 1984). Saya telah menunjukkan bahwa tahap individu penalaran moral membatasi kemampuan mereka untuk memahami tingkat yang lebih tinggi dari penalaran moral. Individu menafsirkan penilaian moral orang lain dari tingkat perkembangan mereka sendiri. Narvaez telah menunjukkan bahwa anak-anak mengkonstruksi pesan moral sastra dibentuk oleh perkembangan yang tingkat anak.
Perspektif ketiga, yang menekankan pemikiran narasi, berakar dalam perpaduan penelitian psikologi terbaru. Perspektif ini didasarkan pada perbedaan antara pemikiran proposisi dan pemikiran narasi. Menurut Vitz (1990), "Pikiran proposisional terdiri dari argumentasi logis yang bertujuan untuk meyakinkan salah satu abstrak, konteks kebenaran independen adalah logis - ilmiah  dan paradigmatik.
Teori pembelajaran sosial memberikan perspektif keempat pada pembelajaran mungkin proses yang terkait dengan kognitif, hasil afektif dan perilaku yang mungkin hasil dari program pendidikan karakter berbasis sastra. Berdasarkan teori belajar sosial, pengalaman anak-anak sastra terbaik dapat memahami berdiri sebagai bentuk pembelajaran observasional. belajar observasional diatur oleh empat proses komponen: kesempatan untuk model berperilaku bijak, contoh perilaku dengan etika, konversi kognisi menjadi tindakan yang tepat sesuai dengan kebajikan dan proses motivasi kognisi dan perilaku.
Tiga pendekatan untuk identifikasi pengembangan teori program ada yang dapat digunakan untuk menghubungkan teori ke praktek dalam pendidikan karakter. Pertama, Pendekatan deduktif menarik terutama pada teori-teori psikologi dan penelitian. Seperti itu teori dapat digunakan untuk membangun model hubungan antara perawatan dan hasil yang kemudian digunakan sebagai teori program. Kedua, pendekatan induktif menggunakan data dari evaluasi program sebelum menghasilkan grounded theory. Sejak ada sedikit ulasan dari literatur penelitian di pendidikan karakter, pendekatan ini masih harus diuji. Akhirnya, di evaluasi seperti ini, evaluator mencoba untuk menyimpulkan dari kurikulum dan alasan-alasan dari para pengembang teori implisit tindakan. Teori tindakan merujuk Cally spesifik bagaimana untuk menghasilkan hasil yang diinginkan berbeda dengan teori-teori secara umum yang menjelaskan mengapa beberapa fenomena menarik terjadi. Untuk Argyris dan Schon teori tindakan yang keyakinan dan asumsi, sering implisit dan tidak diartikulasikan, bahwa orang-orang dan kelompok untuk bertindak dengan cara tertentu. Seperti itu teori membantu untuk menjelaskan bagaimana tertentu program pendidikan dan sosial dibangun oleh pengembang dan mengapa mereka percaya program-program akan bekerja. Sebagai dibahasan di atas, teori tindakan yang muncul untuk mendukung Heartwood dengan kurikulum yang baik kognitif dan afektif. keyakinan kognitif meliputi pandangan bahwa kosakata (pemahaman kognitif) sangat penting untuk pembentukan karakter, dan asumsi afektif adalah bahwa ada yang "menyentuh hati" atau menghasilkan respon afektif juga penting dalam mencapai dan mempengaruhi anak-anak dengan pesan etika. penelitian dilaporkan dalam penelitian evaluasi ini tidak mengeksplorasi sejauh mana cerita atau pengalaman kurikuler lainnya menimbulkan respon afektif siswa. dalam retro spect, penelitian yang dinamis ini mungkin telah berkontribusi untuk lebih lengkap pemahaman efek dari kurikulum. Untuk saat ini hanya satu program, Program perkembangan anak, telah diartikulasikan penelitian eksplisit dan teori berbasis perspektif mengenai hal ini.
Evaluasi program pencegahan (narkoba, kekerasan dan seksual berisiko) cenderung akan lebih berbasis teori dari program evaluasi pendidikan karakter. Hal ini berguna untuk kontras pendekatan umum untuk desain kurikulum pendidikan karakter dengan teori pendekatan sistematis / berbasis penelitian ditemukan dalam penelitian pencegahan. Contoh pendekatan yang terakhir ditemukan dalam pembangunan mental pencegahan dari HIV. Dalam kurikulum ini penulis jelas di menentukan dasar konseptual model mereka beberapa risiko seksual remaja perilaku. Mereka membahas secara rinci penelitian tentang teori kognitif sosial, sosial dalam teori pengaruh dan model sekolah perbaikan perubahan. Selanjutnya, menggunakan wawasan mereka dalam sistematis merancang kurikulum.
Jenis pendekatan desain sistematis kurikulum dan pengajaran jarang terdeteksi dalam literatur pendidikan karakter. Dengan desain program pendidikan karakter dapat dilihat di evaluasi program pencegahan. Dalam penelitian pencegahan, ketika pertanyaan "Apa yang bekerja?" Diminta, salah satu arti dapat menentukan berbagai kalangan program penekanan, serta pola memastikan dari temuan terkait dengan berbagai ini penekanan program. Idealnya, jika program pendidikan karakter yang ditingkatkan mereka harus dikembangkan dan dievaluasi dari perspektif yang jelas mengenai sifat karakter dan bagaimana hal itu dipelajari. Harapannya adalah bahwa analisis sebagai berikutnya dari data yang dilakukan perspektif yang koheren dan diuji pada karakteristik yang efektif program pendidikan karakter berbasis sastra dapat dikembangkan.

C.    PERBANDINGAN DENGAN PENELITIAN KOHLBERG
Teori Perkembangan Moral L. Kohlberg
Kohlberg melengkapi dan  memperluas karya  Piaget.  Kohlberg  melakukan serangkaian penelitian terhadap 72 anak laki-laki di Chicago yang berusia 10, 13 dan 16 tahun. Beberapa subjek dites ulang selama 20 tahun. Dalam penelitiannya tersebut setiap anak diinterview selama 2 jam, dengan menanyakan 10 isu  moral  yang  berbentuk dilema moral. Salah  satu  contoh dilema moral  yang digunakan oleh Kohlberg tersebut adalah Dilema Heinz:
“Di Eropa, ada seorang wanita yang hampir meninggal dunia karena menderita penyakit kanker. Menurut pendapat dokter yang merawatnya, hanya ada satu jenis obat yang dapat menyelamatkannya. Obat tersebut adalah sejenis radium yang baru ditemukan oleh seorang apoteker yang tinggal di kota tersebut.”
Selama  interview,  subjek  menyatakan  antara  50    150  pernyataan moral. Berdasarkan pernyataan-pernyataan subjek penelitiannya, Kohlberg mengidentifikasikan perkembangan moral menjadi enam tahap. Adapun tahap-tahap perkembangan moral tersebut adalah sebagai berikut:
1)      Tingkat I : Pra Konvensional.
Pada tingkat (level) moralitas Pra konvensional, moralitas anak berorientasi kepada   akibat   fisik   yang   diterimanya   daripada   akibat-akibat   psikologis   dan berorientasi pada  rasa  patuh  kepada pemberi otoritas. Jadi  perilaku moral  anak berdasarkan pada kendali eksternal, pada hal-hal yang diperintahkan dan dilarang oleh otoritas tersebut. Tingkat Pra konvensional ini dibagi menjadi dua tahap, yaitu tahap satu dan tahap dua.
Tahap 1 : Orientasi patuh dan takut hukuman.
Tahap 2: Orientasi naif egoistis/hedonisme instrumental.
2)      Tingkat II: Konvensional.
Tingkat moralitas ini juga biasa disebut moralitas peraturan konvensional dan persesuaian (conformity). Ciri utama tingkat ini adalah suatu tindakan dianggap baik apabila memenuhi harapan-harapan orang lain di luar dirinya, tidak peduli akibat- akibat yang langsung dan kelihatan. Sikap ini bukan hanya mau menyesuaikan dengan harapan-harapan orang tertentu atau dengan ketertiban sosial, akan tetapi sikap ingin loyal, sikap ingin menjaga, menunjang dan memberi justifikasi pada ketertiban  itu  dan  sikap  ingin  mengidentifikasikan diri  dengan  orang-orang  atau kelompok yang ada di dalamnya. Tingkat konvensional dibagi menjadi dua tahap, yaitu tahap tiga dan tahap empat.
Tahap 3: Orientasi anak yang baik.
Tahap 4: Moralitas pelestarian otoritas dan aturan sosial.
3)      Tingkat III: Pasca konvensional.
Tingkat  ketiga  ini  bisa  juga  disebut  sebagai  moralitas  prinsio-prinsip yang diterima sendiri. Pada tingkatan ini nilai-nilai moral diartikan terlepas dari otoritas dan dari kelompok, terlepas dari apakah individu menjadi anggota kelompok atau tidak. Individu berusaha untuk memperoleh nilai-nilai moral yang lebih sahih yang diakui oleh  masyarakat  luas  yang  bersifat  universal  dan  menjadi  hak  milik  pribadinya. Tingkat pasca konvensional ini dibagi menjadi dua tahap, yaitu tahap lima dan tahap enam.
Tahap 5: Moralitas Kontrak sosial dan  hak-hak individu. 
Tahap 6: Moralitas prinsip-prinsip individu dan conscience.
Menurut Kohlberg,  tingkat  pra konvensional ialah tingkat kebanyakan anak di bawah usia 10 tahun. Tingkat konvensional ialah tingkat kebanyakan remaja dan orang dewasa. Tingkat pasca konvensional ialah tingkat yang dicapai oleh sejumlah minoritas orang dewasa dan biasanya dicapai setelah usia 24 tahun. Tahap keenam merupakan tahap yang jarang sekali dapat dicapai. Kohlberg menyebutkan contoh tokoh yang mencapai penalaran moral tahap keenam, yaitu Gandhi, Martin Luther King dan Galileo.
Ketika Kohlberg menyatakan bahwa moralitas diperoleh melalui tahap-tahap perkembangan, dia menggunakan konsep tahap dalam suatu cara formal. Kohlberg menjelaskan bahwa 1) setiap tahap memiliki jenis pemikiran moral yang berbeda, bukan hanya peningkatan pemahaman konsep moralitas; 2) tahap-tahap tersebut terjadi dalam urutan langkah yang sama, sehingga tidak ada loncatan atau langkah mundur ke belakang; dan 3) tahap-tahap merupakan prepotent.  Hal tersebut berarti anak-anak memahami semua tahap yang ada dibawah mereka dan barangkali memiliki pemahaman yang tidak lebih banyak dari orang yang ada di atasnya. Anak tidak  dapat  memahami tahap  yang  lebih  tinggi,  tanpa  memperhatikan dorongan, pembelajaran dan latihan. Kohlberg juga mengatakan bahwa tahap-tahap tersebut bersifat universal dan terjadi dalam cara yang sama, tanpa memperhatikan perbedaan individu dalam pengalaman dan budaya. Hal yang penting dari teori Kohlberg adalah bahwa tingkat penalaran moral akan meningkat seiring dengan usia seseorang
Kohlberg mengatakan ada tiga pengalaman sosial yang mempengaruhi penalaran moral, yaitu :
a)      Kesempatan Alih Peran
b)      Konflik Sosio Kognitif
c)      Iklim Moral Lingkungan Sosial

D.    TELAAH TERHADAP TEORI PERKEMBANGAN MORAL LAWRENCE KOHLBERG
Gilligan menyatakan bahwa perempuan dan laki-laki tidak berpikir moralitas dengan cara yang sama. Dalam penelitiannya, dia menemukan bahwa dalam membuat keputusan moral, perempuan berbicara lebih banyak dari laki- laki mengenai hubungan interpersonal, tanggung jawab terhadap orang lain, menghindari menyakiti orang lain, dan pentingnya hubungan diantara orang-orang. Gilligan menyebut moralitas perempuan dengan “orientasi perhatian”.  Berdasarkan perbedaan gender tersebut, Gilligan menyatakan bahwa perempuan akan memiliki skor yang lebih rendah karena tahap yang lebih rendah cocok dengan isu hubungan tersebut (seperti tahap 3 yang mendasarkan pada membangun kepercayaan dan loyalitas dalam hubungan). Menurut Gilligan, laki-laki membuat keputusan moral berdasarkan pada isu-isu keadilan, yang cocok dengan tahap penalaran moral yang tinggi. Hal tersebut menjadi terasa tidak adil, karena sifat-sifat yang secara tradisional dinilai  sebagai  goodness woman”,  membuat  rendahnya  perkembangan  moral.
Seperti halnya penelitian Holstein yang menemukan bahwa sebagian besar anak perempuan berada dalam tahap 3, sedangkan sebagian besar laki-laki berada dalam tahap 4. Walaupun begitu, dalam beberapa penelitian yang lain tidak ditemukan adanya perbedaan gender dalam penalaran moral. Seperti penelitian Walker, yang menemukan perbedaan jenis kelamin hanya pada 8 dari 54 penelitian yang dilakukan di Amerika. Dengan demikian, sampai saat ini belum ada kesepakatan dari para ahli tentang perbedaan gender dalam penalaran moral.

E.     KELEBIHAN PENELITIAN JAMES S LEMING
Kelebihan Dari Penelitian yang dilakukan  James S Leming Diantaranya:
1.      Selain siswa yang diteliti, guru juga ikut serta dalam pengembangan karakter. Karakter moral dari guru-guru memberikan contoh yang jelas dari karakter moral yang kuat dan menampilkan standar moral yang tinggi setiap saat. Guru juga mengharapkan siswa untuk mengikutinya. Karakter guru yang bertanggung jawab, adil, jujur, rajin, peduli, dan pendekatannya kepada siswa.
2.       Moral yang respon ekspresif, guru spontan sering untuk diskusi spontan dari dimensi moral di kelas dan di luar kelas pengalaman.
3.      Penekanan karakter dalam kurikulum, pelajaran, bahan, dan kegiatan sering dipilih dalam konten kurikulum moral siswa. Guru sebagai contoh dalam "titik moral". Guru akan sering mencoba untuk melibatkan para siswa dalam pertimbangan karakter, contohnya problem solving.

F.     KELEBIHAN DAN FAKTA-FAKTA YANG MENDUKUNG TEORI PERKEMBANGAN MORAL KOHLBERG
Teori  perkembangan moral  Kohlberg dipengaruhi oleh  tradisi formal  dalam filsafat dan tradisi strukturalis dalam psikologi, sehingga dia memusatkan pada hirarki perkembangan moral, yang mana penalaran moral individu dapat digolongkan dalam tahap-tahap menurut pemecahan mereka terhadap dilema moral yang diajukan. Salah satu kelebihan teori perkembangan moral dari Kohlberg adalah pada tahap-tahap perkembangan itu sendiri yang memudahkan orang dalam memahami perkembangan moral. Adanya pentahapan juga memudahkan orang untuk memprediksi perkembangan moral seseorang. Secara praktis, dengan adanya tahap- tahap perkembangan memudahkan orang dalam memberikan stimulasi yang tepat untuk meningkatkan penalaran moral seorang anak. Teori Kohlberg merupakan sebuah teori perkembangan kognitif klasik, yang memberikan catatan tentang sifat yang integrated.
Beberapa penelitian yang mendukung teori Kohlberg tersebut di atas antara lain penelitian Kohlberg sendiri yang menemukan bahwa dengan meningkatnya usia, maka subjek juga cenderung mencapai penalaran moral yang lebih tinggi. Beberapa penelitian lain dengan menggunakan prosedur skoring dari Kohlberg ataupun prosedur yang lebih objektif yang dikembangkan oleh Rest menunjukkan hasil adanya konsistensi antara menigkatnya usia dengan peningkatan penalaran moral. yang mereview 44  penelitian  dalam  26  budaya  berbeda di seluruh  dunia,  menemukan  adanya universalitas lintas budaya dalam tahap penalaran moral.
Hasil penelitian lain mendukung pendapat Kohlberg tentang pentingnya konflik sosiokognitif dan iklim moral lingkungan sosial dalam meningkatkan penalaran moral. Penelitian Speicher menunjukkan hubungan positif antara penalaran moral orangtua dengan penalaran moral anak-anaknya. Pola-pola perkembangan mengindikasikan bahwa selama remaja, penalaran moral orangtua berhubungan dengan penalaan moral anak-anaknya, tetapi lebih kuat pada anak perempuan dibandingkan anak laki-laki. Namun pada usia dewasa muda, penalaran moral ayah dan pendidikan merupakan prediktor yang paling kuat bagi penalaran moral anak laki- laki maupun perempuan.
Dari teori perkembangan moral Kohlberg yang telah dijelaskan sebelumnya, tampak bahwa Kohlberg tidak melihat pentingnya aspek kepribadian dalam mempengaruhi   penalaran   moral   seseorang,   kecuali   kemampuannya   dalam melakukan ambil alih peran. Sementara itu dari penelitian Hart dan Chmil menunjukkan bahwa kepribadian remaja, khususnya pola mekanisme pertahanan diri, mempengaruhi penalaran moral sampai usia dewasa.

G.    KELEMAHAN TEORI PERKEMBANGAN MORAL KOHLBERG
Meskipun teori perkembangan moral Kohlberg merupakan teori yang banyak dijadikan referensi sampai saat ini, namun teori tersebut tidak terlepas dari adanya beberapa  kritikan  atas  kelemahan-kelemahannya. Kelemahan-kelemahan tersebut terkait dengan masalah metodologi penelitian yang digunakan Kohlberg, hubungan antara penalaran moral dan perilaku moral, sifat universalitas dari teori Kohlberg, gender dan perkembangan moral serta tinjauan dari sudut filsafat moral.
Teori Kohlberg ini mengarahkan peserta didik untuk melalui hirarki tahap perkembangan moral dengan melakukan pengajaran berdasarkan pengolahan informasi untuk menyelesaikan dilema yang dimunculkan oleh guru. Guru di sini mempunyai peran sentral yang akan mempengaruhi keberhasilan pengajaran. Model dalam pengajaran moral kognitif ini ada dua jenis tahapan yang paling penting diketahui guru adalah mengelompokkan perspektif siswa, yaitu pada apakah hak itu adil, dan alasan-alasan untuk mengerjakan hak itu. Teori ini menekankan guru untuk memberikan dilema kepada peserta didik, dengan tujuan peserta didik dapat menjawab dilema yang ada dengan keputusan yang baik sesuai tingkatan moralnya. Dengan diberikannya dilema-dilema tersebut diharapkan meningkatkan moral peserta didik.
Serta teori Kohlberg ini tidak bisa menjawab persoalan mengapa moral anak muda pada masa sekarang dinilai bobrok dan sangat mengkhawatirkan. model ini tidak bisa menjadi penyelesaian berbagai masalah moral bangsa. Model ini tidak sempurna karena di dalamnya banyak hal yang sering kali tidak jelas. Dilema dalam teori ini merupakan salah satu tema sentral untuk meningkatkan moral anak. Dengan keimanan sebagai dasar moral, maka layaknya dilema yang diberikan kepada siswa harus merujuk pada peningkatan keimanan kepada Allah. Penyelesaian yang ada bukan hanya berdasarkan logika tentang menimbang resiko mana yang paling rendah, namun juga mempertimbangkan apakah akan meningkatkan keimanannya atau malah menurunkan keimanannya.

H.    PENUTUP
Dengan mengacu pada teori perkembangan moral Kohlberg dapat disimpulkan bahwa betapa pentingnya moralitas diajarkan bagi perkembangan anak, karena anak akan memiliki kepribadian yang baik sebagai individu di tengah masyarakat.

I.       DAFTAR PUSTAKA
Duska, R. & Whelan, M. 1984. Perkembangan Moral. Perkenalan dengan Piaget dan Kohlberg. Yogyakarta: Yayasan Kanisius
Desmita. 2006. Psikologi Perkembangan. Jakarta: Rosda Karya.
Djiwandono, Sri EW. 2006. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Grasindo.
Asmani, Jamal Ma’mur. 2012. Buku Internalisasi Pendidikan Karakter di Sekolah. Jogjakarta: Diva Press
Azizy A. Qodri. Pendidikan Untuk Membangun Etika Sosial. Semarang: Aneka Ilmu

Selasa, 04 Oktober 2016

FULL DAY SCHOOL DALAM PERSPEKTIF PENDIDIKAN KEARIFAN LOKAL



FULL DAY SCHOOL DALAM PERSPEKTIF PENDIDIKAN KEARIFAN LOKAL

oleh
Muhammad Syamsuddin
Mahasiswa Pascasarjana IAIN Pekalongan
2016

PENDAHULUAN
Menteri pendidikan dan kebudayaan, Muhadjir Effendy sepertinya ingin melanjutkan tradisi Anies Baswedan dalam mereproduksi wacana kebijakan. Belum genap sebulan menjadi menteri, beliau melemparkan gagasan tentang bersekolah sehari penuh (full day school). Sementara itu, isu kebijakan full day school akan menjadi polemik pro dan kontra ditengah masyarakat. Kebijakan full day school dikatakan Mendikbud sebagai solusi untuk mengembangkan kemampuan psikososial siswa di sekolah dan membantu orang tua siswa yang bekerja sehari penuh yang tidak memiliki waktu untuk mengurus anak. Pelaksanaan full day school didesain untuk menjadi peranti penguatan solidaritas edukatif di sekolah.
Pertanyaan mendasar, apakah full day school memiliki visi strategis dalam peningkatan mutu pendidikan nasional? Lalu, apakah konsep full day school mampu menopang skema program pendidikan berbasis kesetaraan sehingga anak didik dari keluarga miskin bisa terlayani dengan baik? Bagaimana kajian full day school dalam perspektif kearifan lokal?

PENGERTIAN SISTEM PEMBELAJARAN FULL DAY SCHOOL
Full day school menurut etimologi berasal dari Bahasa Inggris. Yang terdiri dari kata full berarti penuh, dan day artinya hari.[1] Maka full day mengandung arti sehari penuh. Sedang school artinya sekolah . Jadi, arti dari full day school jika dilihat dari segi etimologinya berarti sekolah atau kegiatan belajar yang dilakukan sehari penuh.
Sedangkan menurut terminologi atau arti secara luas, Full day school mengandung arti sistem pendidikan yang menerapkan pembelajaran atau kegiatan belajar mengajar sehari penuh dengan memadukan sistem pengajaran yang intensif yakni dengan menambah jam pelajaran untuk pendalaman  materi  pelajaran  serta  pengembangan  diri  dan  kreatifitas.[2]
Adapun  pelaksanaan   pembelajarannya  dilaksanakan  di  sekolah  mulai pagi  hingga  sore  hari,  secara  rutin  sesuai  dengan  program  pada  tiap jenjang pendidikannya. Dalam jurnal pendidikan Islam, karangan Nor Hasan, menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan full day school secara istilah yaitu suatu proses pembelajaran yang berlangsung secara aktif, kreatif dan transformatif selama sehari penuh bahkan selama kurang lebih 24 jam. Yang dimaksud dengan aktif disini yaitu mengoptimalisasikan seluruh potensi untuk mencapai tujuan pembelajaran secara optimal.
Sedangkan sisi kreatif terletak pada optimalisasi pemanfaatan sarana dan prasarana sekaligus sistem untuk mewujudkan proses pembelajaran yang kondusif bagi pengembangan segenap potensi siswa. Adapun dari segi transformatif dalam  pembelajaran  full day  school  adalah  proses  pembelajaran  yang diabadikan untuk mengembangkan seluruh potensi kepribadian siswa dengan lebih seimbang. Dan yang dimaksud dengan sistem 24 jam dimaksudkan sebagai ikhtiar bagaimana selama sehari semalam siswa melakukan aktivitas bermakna edukatif.

LATAR BELAKANG MUNCULNYA FULL DAY SCHOOL
Full day school awalnya muncul pada tahun 1980-an di Amerika Serikat,  sebenarnya  pada  waktu  itu  hanya  dilaksanakan  untuk  jenjang taman kanak-kanak saja, namun dengan seiring perkembangan zaman, full day school meluas, sehingga juga diperuntukkan ke jenjang yang lebih tinggi, yaitu SD sampai dengan menengah ke atas.
Ketertarikan para orang tua untuk memasukkan anaknya ke full day school   dilatarbelakangi   oleh   beberapa   hal,   yaitu   karena   semakin banyaknya kaum ibu yang bekerja di luar rumah dan mereka banyak yang memiliki anak berusia di bawah 6 tahun, meningkatnya jumlah anak-anak usia prasekolah yang ditampung di sekolah-sekolah milik public (masyarakat umum), meningkatnya pengaruh televisi dan mobilitas para orang tua, serta kemajuan dan kemodernan yang mulai berkembang di segala aspek kehidupan. Dengan memasukkan anak mereka ke full day school, mereka berharap dapat memperbaiki nilai akademik anak-anak mereka sebagai persiapan untuk melanjutkan ke jenjang berikutnya dengan sukses, juga masalah-masalah tersebut di atas dapat teratasi.[3]
Adapun munculnya sistem pembelajaran full day school di Indonesia diawali dengan menjamurnya istilah sekolah unggulan sekitar tahun 1990-an, yang banyak dipelopori oleh sekolah-sekolah swasta termasuk sekolah-sekolah  yang berlabel Islam. Dalam pengertian  yang ideal, sekolah unggul adalah sekolah yang lebih mengedepankan pada kualitas proses pembelajaran, bukan pada kualitas input siswanya. Kualitas proses  pembelajaran  bergantung  pada  sistem  pembelajarannya.  Term unggulan  ini  yang  kemudian  dikembangkan  oleh  para  pengelola di sekolah-sekolah menjadi bentuk yang lebih beragam  diantaranya adalah full day school dan sekolah terpadu.

TUJUAN PEMBELAJARAN FULL DAY SCHOOL
Setiap lembaga pendidikan yang ingin mencapai kesuksesan, haruslah menetapkan tujuan yang akan dicapai, di sekolah, tujuan telah dirumuskan dalam berbagai tingkat tujuan, diantaranya yaitu :
1)        Tujuan Pendidikan Nasional
2)        Tujuan Institusional
3)        Tujuan Kurikuler
4)        Tujuan instruksional.[4]
Secara umum tujuan sistem pembelajaran full day school adalah untuk memberikan dasar yang kuat dalam mengembangkan dan meningkatkan kecerdasan/Intelegence Quotient (IQ), Emosional Quotient (EQ) dan Spiritual Quotient (SQ) dengan berbagai inovasi yang efektif dan  aktual.  Kurikulumnya  didesain  untuk  mengembangkan  kreatifitas yang mencakup integritas dan kondisi tiga ranah (ranah kognitif, afektif dan psikomotorik).
Sistem pembelajaran full day school merupakan bentuk pembelajaran  yang diharapkan dapat membentuk seorang peserta didik yang berintelektual tinggi yang dapat memadukan aspek ketrampilan dan pengetahuan dengan sikap yang baik. Dengan adanya garis-garis besar program full day school, diharapakan sekolah yang melaksanakan program ini, dapat mencapai target tujuan yang ingin dicapai oleh lembaga pendidikan.
Adapun garis-garis besar program full day school, adalah sebagai berikut:
1.      Membentuk sikap yang Islami
a.       Pembentukan sikap yang Islami
1)      Pengetahuan dasar tentang Iman, Islam dan Ihsan
2)      Pengetahuan dasar tentang akhlak terpuji dan tercela
3)      Kecintaan kepada Allah dan Rosul-Nya
4)      Kebanggaan kepada Islam dan semangat memperjuangkannya
b.      Pembiasaan berbudaya Islam
1)      Gemar beribadah
2)      Gemar belajar
3)      Disiplin
4)      Kreatif
5)      Mandiri
6)      Hidup bersih dan sehat
7)      Beradab Islami
2.      Penguasaan Pengetahuan dan Ketrampilan, diantaranya:
a.       Pengetahuan materi-materi pokok program pendidikan
b.      Mengetahui dan terampil dalam beribadah sehari-hari
c.       Mengetahui dan terampil baca dan tulis Al-Qur'an
d.      Memahami secara sederhana isi kandungan amaliah sehari-hari.[5]

KURIKULUM FULL DAY SCHOOL
Kurikulum dapat diartikan sebagai sebuah dokumen perencanaan yang berisi tentang tujuan yang harus dicapai. Isi materi dan pengalaman belajar yang harus dilakukan siswa, strategi dan cara yang dapat dikembangkan, evaluasi yang dirancang untuk mengumpulkan informasi tentang pencapaian tujuan, serta   implementasi dari  dokumen yang dirancang dalam bentuk nyata.
Berbeda dengan model kurikulum sekolah pada umumnya, full day  school menerapkan konsep dasar Integrated-Activity dan Integrated-Curriculum. Artinya seluruh program dan aktivitas anak yang  di  sekolah,  mulai  dari  belajar,  bermain,  makan  dan  beribadah tercover semua dalam suatu sistem pembelajaran full day school. Kurikulum full day  school  didesain  untuk  menjangkau  masing-masing dari perkembangan anak, konsep pengembangannya dengan mengembangkan kekreatifitasan anak, yang didasarkan atas aspek kognitif, afektif dan psikomotorik.[6]
Dalam  perkembangannya,  manajemen  full  day  school mensyaratkan adanya profesionalisme dari seorang pendidik, pendidik dituntut   untuk   peka  terhadap   perkembangan   zaman,  selalu   terbuka terhadap kemajuan pendidikan, serta mengembangkan kurikulum yang modern, hal itu bertujuan agar konsep kurikulum yang direncanakan bisa tercapai.
Dalam penerapan full day school sebagian waktunya harus digunakan   untuk   program-program   pembelajaran   yang   suasananya informal, tidak kaku, menyenangkan bagi siswa, yang tentunya ini memerlukan kreatifitas dan inovasi dari seorang guru. Permainan yang di berikan dalam sistem full day school masih mengandung arti pendidikan, yang artinya bermain sambil belajar. Sebisa mungkin diciptakan suasana yang kreatif dalam pembelajarannya, sehingga siswa tidak akan merasa terbebani, bosan dan menjenuhkan meski seharian berada di dalam sekolah.
Salah satu kesuksesan pendidikan terletak pada kurikulum, kurikulum yang diterapkan harus disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik dan tuntutan orang tua, selain itu sekolah harus memiliki ciri khas yang menonjol agar masyarakat tertarik dan  yang paling utama adalah sekolah mampu  menampilkan dan  memastikan  bahwa  sekolah tersebut benar-benar  mempunyai  keunggulan  dalam  berbagai  hal,  agar  banyak diminati oleh masyarakat.

FULL DAY SCHOOL DALAM PERSPEKTIF KEARIFAN LOKAL
Kasus full day school yang telah mendapatkan respon banyak praktisi pendidikan dan banyak pengelola pesantren dan madrasah diniyah yang geram. Namun karena kesopanan dan sikap kehati hatian Muhadjir, ia kembali mundur dari sebelum merencanakan full day school dengan tidak merasakan kesulitan, karena kebijakannya ini masih berbentuk sikap kebijakan yang mengandaikan sistem pendidikan Finlandia bisa berlangsung di Indonesia.
Bersamaan dengan pengandaian dari Mendikbud ini adalah sebagai bentuk pengandaian kebijakan yang bersifat main main. Alasannya, karena sistem kurikulum pendidikan bangsa Indonesia sudah sangat padat, mengapa harus full day school? Mengapa sebelum menawarkan pendekatan dan cara pendampingan kepada anak bangsa harus menjadikan Finlandia sebagai kawasan studi? Mengapa bukan kawasan studi yang berada di Indonesia yang memiliki ragam dan corak budaya yang beragam?
Dengan kawasan studi yang berada di negera sendiri, maka akan menemukan model pendekatan yang akan dapat disesuaikan dengan kearifan lokal. Karenanya, dalam pengandaian Mendikbud itu, yang terkejut pertama kali adalah para kiai dan santri di desa yang sekarang ini masih berbasis madrasah dan pesantren. Jadi, pengandaian kebijakan dengan mengacu pada sistem belajar full day school merupakan contoh kebijakan yang tidak ramah terhadap kondisi fisik dan mental anak, sekaligus juga merusak sistem pendidikan madrasah. Full day school akan menyamaratakan pada semua siswa dalam konteks penanganan pendampingan yang sama.[7]
Dari semua siswa sepulang dari sekolah formal sudah dapat dilihat, mereka akan memiliki selera yang berbeda beda. Misalnya, ada selera yang berbasis pesantren dan madrasah, hobi olah raga, musik, istirahat, bermain, dan lain sebagainya. Dari semua selera ini akan terganggu dengan adanya realisasi sebuah full day school. Berapa biaya yang diperlukan untuk menyediakan hobi dan selera pasca sekolah menjadi bertempat di sekolah. Hal ini tidak cukup hanya dilihat dari sertifikasi guru.
Secara psikologis, sistem full day school tidak akan membuat nyaman para siswa, sebab sistem full day school akan memberlakukan full model yang monoton dan menjenuhkan,  karena berada dalam satu area pembelajaran yang tidak berubah suasana dan pemandangan alamiah. Misalnya, sehari full dengan seragam yang sama, model guru yang sama, lokasi area yang sama, wajah teman yang sama, model pendekatan salah seorang guru yang sama. Semua isi full day school akan diseragamkan dengan model yang sama daan penuh dengan sistem formalitas sekolah.
Dalam konteks bercanda, bahwa dunia pendidikan dan pengembangan kepribadian hanya milik Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Sedangkan, yang lain bukanlah lingkungan yang baik, karena tidak ada sertifikasi, seragam pendidikan, dan terkait langsung dengan kebijakan menteri pendidikan dan kebudayaan. Berbeda dengan sistem belajar setengah hari, para siswa bebas memilih pilihan bersama orang tua, apakah akan memilih madrasah di sore hari? atau memilih mengaji al-Quran sesudah maghrib di mushalla atau di masjid? Ataukah memilih mendatangkan pendamping private untuk mematangkan kemampuan siswa dan siswi.
Pesantren di desa, yang telah berlangsung dengan sistem pembelajaran keberagamaam ala madrasah diniyah. Dalam konteks yang lebih luas, kebijakan sistem full day school akan mematikan tenaga pendamping private dan lembaga lembaga kursus di luar sekolah. Jika sistem full day school diterapkan, berarti juga membutuhkan tenaga guru yang lebih banyak lagi. Jika pengandaian full day school bertujuan untuk pendidikan karakter, maka Mendikbud perlu mempertimbangkan kembali model kearifan lokal dalam membentuk karakter subjek. Dalam kondisi apa pun membentuk karakter anak negeri tidak bisa merujuk lokal wisdom Finlandia. Karenanya, perlu mengkaji local wisdom versi Nusantara (Jawa).
Sehubungan dengan pendidikan karakter versi nusantara dapat dipahami dari kerangka dasar masyarakat nusantara yang lebih mementingkan modeling. Modeling dalam tradisi pesantren bukan sekedar menampilkan seorang guru yang bersedia mengajar dengan sertifikasi, namun seorang guru yang merelakan pendampingan tanpa memperdulikan hal hal seperti yang disebut dengan sertifikasi. Semua manusia memerlukan harta, namun tidak menjadi tujuan mereka yang sudah mencapai modeling dalam tradisi pesantren. Model ini masih sulit ditemukan di dalam pendidikan formal.[8]
Sementara itu, Mendikbud mengandaikan full day school dengan target mempermudah sertifikasi guru. Bukankah, lebih baik Mendikbud bekerja sama dengan para guru madrasah dengan merekomendasikan agar orang tua menyekolahkan putra putrinya pasca dari sekolah formal dengan konsekuensi memberikan support anggaran untuk pengembangan madrasah diniyah. Meskipun demikian, tidak bisa memaksakan seluruh siswa siswi masuk di madrasah pada sore hari, karena di antara mereka ada yang hobi musik, olah raga.
Bukankah kebijakan Mendikbud yang mengandaikan sesuatu yang merusak kearifan lokal, lebih baik dengan membuat kebijakan, model bimbingan belajar yang berkualitas, agar masuk di desa , sebab selama ini, bimbingan belajar hanya ada di kota. Dalam konteks yang sama, Mendikbud dapat memberikan support lembaga lembaga yanng telah serius memberikan dampingan belajar kepada anak atau dengan memberikan anggaran kepada sekolah untuk membuka model dampingan full day school yang tidak mengikat para siswa, sehingga apabila ada anak yang diwajibkan mengikuti full day school untuk konteks bermain bisa dilaporkan ke lembaga pengawas sekolah.

PENUTUP
Implementasi full day school harus dikaji secara mendalam dalam pelbagai perspektif. Perspektif pertama terkait dengan adaptasi kurikulum. Penyelenggaraan  full day school  tetap harus berdasar pada kurikulum 2013 yang disepakati sebagai kurikulum nasional. Jika pelaksanaan full day school keluar dari bingkai kurikulum 2013, justru akan kontraproduktif dengan visi peningkatan standar kualitas pendidikan nasional. Perspektif selanjutnya adalah psikososial pendidikan. Full day school tidak boleh merampas momentum pengembangan potensi, minat, dan bakat siswa dalam kegiatan bermain mereka. Tidak boleh membelenggu  siswa (anak didik) pada kegiatan pragmatis di lingkungan sekolah sehingga menjauhkan dari relasi sosial kemasyarakatan. Relasi sosial kemasyarakatan menjadi media pengembangan karakter yang memiliki empati pada etika publik.
Yang lebih penting, konsep full day school tidak boleh membebani orang tua siswa dalam hal tambahan anggaran dan biaya. Tidak boleh memberikan peluang korupsi bagi oknum-oknum pencari anggaran pendidikan. Dengan begitu, ketika dipraktikkan, full day school tidak akan menjadikan sekolah sebagai instrumen layanan hak sosial dasar yang berbiaya mahal. Jika ditelaah secara mendalam, konsep full day school tidak dilandasi tujuan yang substansial untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional di jenjang sekolah dasar dan menengah. Namun lebih bersifat artifisal untuk melayani kelompok masyarakat yang tidak memiliki waktu untuk mendidik dan menemani anak karena kesibukan bekerja. Idealnya, gagasan full day school tidak memiliki kelayakan untuk diterapkan menjadi kebijakan nasional.


DAFTAR PUSTAKA
Saleh, Muwafik. Membangun Karakter dengan Hati Nurani. Jakarta: Erlangga. 2012
Asmani, Jamal Ma’mur. Pendidikan Karakter di Sekolah. Jogjakarta: Diva Press. 2012
____________________. Pendidikan Berbasis Keunggulan Lokal. Jogjakarta: Diva Press. 2012
Jurnal Pendidikan Karakter Tahun II Nomor 1 Februari 2012. Imam Suyitno. Pengembangan Pendidikan Karakter dan Budaya bangsa Berwawasan kearifan Lokal. FBS Universitas Negeri Malang
Jurnal Proceedings International Conference on Education. 2010. Yadi Yuradi. Model Pendidikan Karakter Berbasis Kearifan Budaya Lokal. UPI Bandung


[1] Muwafik Saleh, Membangun Karakter dengan Hati Nurani, (Jakarta: Erlangga. 2012), h. 14
[2] Muwafik Saleh, Membangun Karakter dengan Hati Nurani, (Jakarta: Erlangga. 2012), h. 17
[3] Jamal Ma’mur Asmani, Pendidikan Karakter di Sekolah, (Jogjakarta: Diva Press. 2012), h. 44
[4] Jamal Ma’mur Asmani, Pendidikan Karakter di Sekolah, (Jogjakarta: Diva Press. 2012), h. 45 - 46
[5] Muwafik Saleh, Membangun Karakter dengan Hati Nurani, (Jakarta: Erlangga. 2012), h. 22
[6] Muwafik Saleh, Membangun Karakter dengan Hati Nurani, (Jakarta: Erlangga. 2012), h. 15
[7] Jurnal Pendidikan Karakter Tahun II Nomor 1 Februari 2012. Imam Suyitno. Pengembangan Pendidikan Karakter dan Budaya bangsa Berwawasan kearifan Lokal. FBS Universitas Negeri Malang, h. 2
[8] Jurnal Proceedings International Conference on Education. 2010. Yadi Yuradi. Model Pendidikan Karakter Berbasis Kearifan Budaya Lokal. UPI Bandung, h. 576 - 577