Selasa, 17 November 2015

PSIKOLOGI ISLAMI (Sebuah Pendekatan Alternatif Terhadap Teori-teori Psikologi Barat)



PSIKOLOGI ISLAMI 

                                  (Sebuah Pendekatan Alternatif Terhadap Teori-teori Psikologi Barat) 

Oleh
Muhammad Syamsuddin
                                                        Mahasiswa Pasca Sarjana STAIN Pekalongan
 

A. Pendahuluan
Masyarakat dunia menyepakati bahwa awal abad XV hijriyah merupakan tonggak kebangkitan Islam setelah tertidur sekian lama. Hal ini ditandai dengan runtuhnya komunisme yang diiringi dengan hancurnya kekuasaan Negara-negara blok Timur yang ternyata membawa implikasi terhadap otoritas kekuasaan dunia yang berpindah pada hegemoni kekuatan Barat. Berbarengan dengan itu, kekuatan Islam yang terpendam mulai bangkit kembali, dan inilah yang melatar-belakangi Tesis Huntington tentang infiltrasi peradaban antara Islam versus Barat.
Islam adalah agama universal (rahmatan lil ‘alamin) memberi ruang yang sangat terbuka terhadap perkembangan sains. Oleh karenanya, dengung kebangkitan Islam ini pun menyangkut pula bidang keilmuan. Nama-nama seperti Ismail Raji al-Faruqi, Syed Muhammad Naquib al-Attas, Sayyed Hussein Nasr, Yusuf Qardhawi, dan Ziauddin Sardar, Malik B. Badri dan lain-lain menjadi pelopor islamisasi ilmu pengetahuan di berbagai bidang ilmu, seperti ilmu ekonomi, ilmu hukum, sosiologi, antropologi, ilmu politik, psikologi dan seterusnya.
Sejalan dengan kebangkitan itu, ilmu pengetahuan modern pun mengalami perubahan besar, yakni adanya kritisisme terhadap ilmu pengetahuan modern. Dipercayai bahwa perkembangan ilmu pengetahuan itu tidak statis dan terus akan mengalami perubahan dan perkembangan, maka muncullah teori-teori baru yang mengkritik dan mengganti teori-teori lama. Psikologi sebagai bagian dari sains, pasti akan terpengaruh perubahan besar tersebut.
Psikologi sekuler mengalami krisis dan kebuntuan ketika memaknai manusia, karena hanya memfokuskan penelitiannya pada hal-hal yang empiris saja. Itu ditandai misalnya dengan pergeseran pengertian psikologi sebagai “ilmu jiwa” menjadi lebih kepada behavior (perilaku) yaitu hanya membahas tentang “gejala-gejala jiwa”. Padahal semestinya psikologi tidak hanya membahas tentang fakta-fakta realitas saja, tetapi juga mengkaji dan mengobservasi dimensi lain yang menjadi sumber terjadinya peristiwa-peristiwa mental tersebut.
M. Quraish dalam Wawasan Islam mengutip pendapat DR. A. Carel dalam bukunya Man the Unknown menjelaskan bahwa pengetahuan manusia tentang dirinya sangat terbatas, hal itu disebabkan oleh: pertama, pada mulanya perhatian manusia tertuju pada penyelidikan tentang materi dan terlambat melakukan penelitian tentang diri manusia. Pada zaman primitif, nenek moyang kita disibukkan untuk menjinakkan dan menundukkan alam sekitarnya, seperti upaya membuat senjata untuk mempertahankan diri dan melawan binatang-binatang buas, penemuan api, per-tanian, peternakan dan sebagainya, sehingga mereka tidak menyempatkan waktu untuk memikirkan tentang dirinya. Begitupun halnya pada masa renaisans (zaman pembaharuan), para ahli di era itu hanya disibukkan untuk melakukan penelitian dan penemuan-penemuan baru yang berorientasi profit material dan menyenangkan publik, karena hal-hal yang baru tersebut mempermudah kehidupan mereka. Kedua, sifat akal kita, seperti yang dinyatakan oleh Bergson tidak mampu mengetahui hakikat hidup, karena ciri khas akal manusia kecenderungannya memikir-kan hal-hal yang sederhana dan tidak rumit. Ketiga, kehidupan perilaku manusia sangat multikomplek, tidak hanya didekati lewat penelitian-penelitian yang nampak saja, hanya dipengaruhi oleh faktor fisik-biologis, psiko-edukasi, maupun sosio-kultur, tetapi ada dimensi lain sebagai sumber kehidupan manusia, yaitu dimensi spiritual, yang akhir-akhir diakui oleh dunia psikologi modern, seperti apa yang dikemukakan oleh Viktor Frankl, bahwa kehidupan manusia tidak hanya didominasi oleh dimensi ragawi (somatis), kejiwaan (psikis), dan lingkungan sosial budaya. Frankl menye-butkan corak pandangan psikologinya ini dalam teori logoterapinya  dengan neotic.[1] Sedangkan Islam semenjak awal telah menjelaskan bahwa manusia adalah satu-satunya makhluk yang dalam unsur penciptaannya terdapat ruh Ilahi.[2]
Jika apa yang dikemukakan Viktor Frankl dan A. Carrel itu diterima, maka satu-satunya jalan untuk mengenal dan menemukan jawaban tentang hakikat manusia adalah merujuk kepada wahyu Ilahi. Usaha tersebut tentu tidak cukup hanya dengan mengambil satu atau dua ayat, tetapi seharusnya merujuk pada semua ayat al-Qur’an atau paling tidak ayat-ayat pokok yang berbicara tentang masalah yang dibahas, dengan mempelajari konteksnya masing-masing, dan diperkuat dengan penje-lasan sunnah Rasul maupun penemuan-penemuan ilmiah yang telah mapan. Cara ini dalam disiplin ilmu al-Qur’an dikenal dengan metode tematis (maudhu’i).
Ayat-ayat rabbani menjadi wawasan dan landasan Psikologi Islami. Dalam QS. al-Fushshilat [41]:53 Allah Swt berfirman: “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-atanda (kekuasaan) Kami disegenap upuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelalah bagi mereka bahwa al-Qur’an itu adalah benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup bagimu bahwa Dia menyakskan segala sesutu?”.
Dari ayat ini tersirat tiga ragam ayat Tuhan sebagai tanda keagungan-Nya: pertama, Firman  Kitabi, diwahyukan dalam bahasa manusia melalui  para Rasul (cq. Muhammad Saw). kemudian ditulis dan dikodifikasi dalam sebuah mushaf berupa kitab suci (al-Quran al-Karim). Kedua, firman Afaqi, yaitu ketentuan Tuhan yang eksis dan bekerja pada semesta alam, khususunya alam materi. Ketiga, firman nafsani ketentuan Tuhan yang ada dan bekerja pada diri manusia, temasuk kejiwaannya.
Ayat-ayat afaqi dan ayat-ayat nafsani lazim disebut sunnatullah, yaitu tanda-tanda kekuasaan Tuhan yang terlukis dalam semesta ciptaan-Nya dan sering berproses di dalamnya menjadi hukum  alam (the law of nature).
Pendekatan psikologi dalam hal ini dapat digunakan untuk membuka rahasia sunna-tullah yang bekerja pada diri manusia (ayat nafsani), dalam pengertian menemukan berbagai asas, unsur, proses, fungsi dan hukum-hukum mengenai kejiwaan manusia.[3]
Psikologi sekuler berpandangan bahwa perilaku kehidupan manusia sangat dipenga-ruhi oleh tri-dimensi: dimensi fisik-biologis, psiko-edukasi, dan sosio-kultural, sedang dimensi spiritual tidak mendapatkan tempat dalam ruang kehidupan manusia. Dapat dikatakan bahwa hanya dengan menggunakan kemam-puan intelektual semata dapat ditemukan dan diungkapkan asas-asas kejiwaan.
Psikologi tradisional (sekuler) berasumsi bahwa alam semesta secara keseluruhan bersifat materi, tanpa makna dan tujuan. Menurut psikologi sekuler, manusia tidak lebih dari organisme tubuh, pikiran manusia berkembang berasal dari sistem syaraf tubuh semata dan tidak mengakui  adanya dimensi spiritual.   
Menurut psikologi Islami, alam semesta diciptakan berdasarkan kehendak Tuhan, dan mencerminkan eksistensi-Nya. Al-Qur’an berkata: “bahwa milik Allah-lah Timur dan Barat, kemanapun kamu menghadap, di situlah wajah Tuhan berada”.[4]
Psikologi Islami mendekatinya dengan memfungsikan akal dan keimanan, yakni dengan cara mengoptimalkan daya nalar yang obyektif-ilmiah dengan metodoginya yang tepat. Psikologi Islami mencoba memahami manusia dalam kerangka Islam. Pada dasarnya upaya yang dilakukan untuk mengembangkan psikologi yang bermuataan nilai-nilai ke-Islaman yang didasarkan pada tiga asumsi: pertama, para ahli mensinyalir bahwa abad ini adalah zamannya kecemasan (anxiety) dan kegelisahan (restlessness). Dunia mengalami krisis moral dan kepercayaan, sehingga kondisi kejiwaan seseorang mulai membutuhkan suasana yang menyejukkan. Salah satu solusi yang dipandang cukup signifikan dalam menyelesaikan problem kejiwaan tersebut adalah dengan menghadirkan diskursus psikologi. Kedua, psikologi kontemporer sekuler yang hanya semata-mata menggunakan kemampuan intelektual belum mampu memecahkan problem kejiwaan manusia, dan memang sesuai dengan cirinya yang netral-etik-antrophosentris, psikologi ini memaksakan diri hanya pada pendekatan empiris. Akibatnya, psikologi tercerabut dari akar pengertiannya yang semula bermaksud membahas tentang jiwa manusia dialihkan pada pembahasan “gejala jiwa”. Perubahan ini memunculkan kritik terhadap keberadaan psikologi, yang didefinisikan sebagai “ilmu jiwa yang tidak mempelajari jiwa, atau ilmu jiwa yang mempelajari manusia tidak berjiwa”. 
Pengertian model psikologi seperti ini mengakibatkan distorsi fungsi hakikat psikologi. Agar psikologi tetap pada fungsinya, diperlukan pendekatan baru dalam pengem-bangannya. Salah satunya adalah dengan menghadirkan nilai-nilai Islam. Hal ini ternyata banyak menginspirasi para ilmuan Barat akan kebekuan dan kekeringan teori-teori Barat dalam menganalisa kejiwaan manusia, sehingga memunculkan teori-teori baru dan menggulirkan mazhab baru dalam perkembangan psikologi yang dimulai dengan penemuan Viktor Frankl dengan “logoterapi”nya. Teori ini meretas jalan berdirinya satu aliran baru yang menjadi trend wacana psikologi di dunia barat kini (khususnya Amerika), yaitu “psikologi Transpersonal”.[5] Diakui atau tidak pendekatan ini diilhami oleh dunia sufisme yang berakar kuat dari sumber Islam.

B.  Sejarah  Psikologi Islami
Fase pertama. Sejarah psikologi Islam berawal dari sejarah manusia itu sendiri. Hanya pada masa itu belum dinamai psikologi, walaupun pada prakteknya telah nampak nilai-nilai psikologis. Psikologi saat itu hanya masuk dalam piranti etika dan filsafat. Untuk fakta ini kita dapati beberapa referensi Qur’ani yang relevan, misalnya kita dapati relevansi psikologis dalam narasi al-Qur’an tentang kisah dua putera Adam. Salah seorang dari mereka (Qabil) melakukan pembunuhan atas saudaranya (Habil).[6] Tuhan menceritakan:
”Maka hawa nafsu Qabil  menjadikannya menganggap mudah membunuh saudaranya, sebab itu dibunuhnyalah, maka jadilah ia seorang diantara orang-orang yang merugi. Kemudian Allah menyuruh seekor burung gagak menggali-gali di bumi untuk memperlihatkan kepadanya (Qabil) bagaimana dia seharusnya menguburkan mayat saudaranya. Berkata Qabil: “Aduhai celaka aku, mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, lalu aku dapat menguburkan mayat saudaraku ini?” Karena itu jadilah dia seorang diantara orang-orang yang merugi”.
Pertumpahan darah yang pertama dalam sejarah kehidupan manusia karena dorongan nafsu ghadhab (instink tanathos=naluri kematian) dan kecemburuan yang berlebihan dari gejolak jiwa tak terkendali adalah realita tak terbantahkan dari perilaku psikologis umat manusia.
Kisah ini menjelaskan tentang motivasi psikologis yang menyimpang (kecemburuan yang berlebihan) dan pengaruhnya terhadap perilaku manusia. Satu pelajaran lainnya dalam episode ini ialah bahwa manusia pun bisa belajar melalui proses imitasi (Qabil meniru burung gagak yang menggali tanah untuk menguburkan jasad saudaranya). Proses peniruan ini dalam psikologi dikenal sebagai asas perilaku (behavioristik) dari teori modelling (percontohan) Albert Bandura.
Fase kedua, perkembangan psikologi ilmiah di dunia Islam terjadi pada paruh abad pertengahan. Para sarjana Islam melakukan kajian-kajian tentang psikologi diilhami oleh ide-ide al-Qur’an. Al-Kindi (185-260H/801-873M)[7] misalnya, dipandang sebagai filosof muslim pertama yang membahas tentang psikologi mengenai “Tidur dan mimpi”. Dalam “Filsafat Pertama”, ia membahas berbagai fungsi jiwa, dan tentang cara kerja pikiran manusia. Ibn Sina (370-428 H/980-1037 M), seorang filosof dan ahli kedokteran  yang banyak memberikan sumbangan terhadap Psikologi Islami. Dalam bukunya yang termashur, al-Syifa, membahas tentang jiwa, eksistensinya, hubungan jasmani-ruhani, sensasi, persepsi dan aspek-aspek terkait lainnya. Dia membedakan antara persepsi internal dan persepsi eksternal. Dia juga menjelaskan beberapa emosi manusia yang tidak dimiliki binatang, seperti heran, senyum, tangis dan sebagainya. Disamping itu, dia juga mencoba menerangkan beberapa penyakit somatik.[8] Al-Ghazali (450-505 H/1043-111M) hujjatul Islam,  memainkan peranan penting dalam sejarah perkembangan semua cabang ilmu yang ada kaitannya dengan psikologi. Abdul Hamid  al-Hasyimi, seorang Profesor psikologi di Universitas Raja Abdul Aziz menyatakan bahwa orang pertama yang menamai cabang ilmu psikologi sebagai ilmu yang mengkaji jiwa dan behavior (perilaku) manusia adalah al-Ghazali.[9] 
Kitabnya yang sangat penomenal “Ihya ‘Ulumuddin” banyak membahas tentang jiwa dan perilaku manusia. Al-Ghazali juga yang membagi struktur keruhanian  manusia ke dalam empat dimensi, yakni Kalbu (al-Qalb), Ruh (al-Ruh), Akal (al-Aql), dan Nafsu (al-Nafs). Menurutnya ke empat unsur itu masing-masing memiliki dua arti, yaitu  arti jasmaniyah dan arti ruhaniyah (lathifah-ruhaniyyah-rabbaniyyah).[10]
Fase selanjutnya, sangat banyak para pemikir Islam memberikan kontribusi penting bagi perkembangan psikologi Islam. Pada dekade ini kegandrungan pada wacana islamisasi sains semakin meningkat, tak terkecuali bidang ilmu psikologi. 
Diawali symposium internasional Psikologi di Riyadh (1978). Symposium ini dilatar-belakangi ditutupnya sebuah fakultas psikologi sebuah perguruan tinggi di Saudi Arabia, kegiatan ini berusaha untuk mengkritisi teori-teori psikologi yang dipandang cendekiawan muslim banyak menyesatkan umat Islam dan aqidahnya. Salah seorang yang tampil pada acara tersebut adalah Malik B. Badri. Ia menghadirkan pemikiran yang kritis atas aliran-aliran psikologi Barat, terutama psikoanalisa dan psikologi behavioristik. Pemikiran yang sangat kritis ini mendapat perhatian dari banyak kalangan, maka diterbitkanlah buku, The Dilemma of Muslim Psychologists (1979), sebuah buku yang banyak menggairahkan diskusi di kalangan mahasiswa, aktivis dan intelektual muslim. Setelah terbitnya tulisan Badri, di Timur Tengah terbit pula buku Nahw ‘Ilm al-Nafs al-Islamy karya Hasan Muhammad Syarqawi (1979),  ‘Ilm al-Nafs al-Ma’ashir fi al-Islam (1983) karangan Muhammad Mahmud.[11]
Buku Malik B. Badri pada tahun 1986 melalui penerbit Pustaka Firdaus diterjemah-kan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Dilema Psikologi Muslim, kemudian bermun-culan buku-buku karangan para penulis di luar bidang psikologi, seperti Sukanto M.M penulis buku Nafsiologi (1986), Zuardin Azzaino, seorang ahli ekonomi menulis Asas-asas Psikologi Ilahiyah (1990), Lukman Saksono dan Anharuddin menulis Pengantar Psikologi al-Qur’an (1992).[12]
Momentum psikologi Islami di Indonesia diawali dengan terbitnya sebuah buku hasil karya Djamaluddin Ancok & Fuad Nasahari Suroso dengan judul Psikologi Islami, Solusi Islam  atas  Problem-problem Psikologi (1994). Kemunculan buku ini berbarengan dengan berlangsungnya kegiatan Simposium Nasional Psikologi Islam I (UMS). Kehadiran buku-buku ini menjadi menjadi bahan diskusi untuk mengkritisi psikologi Barat juga menjadi alasan untuk lebih jauh menggali psikologi perspektif Islam tentang jiwa dan perilaku manusia.[13] Wacana tentang islamisasi  psikologi belum banyak dipublikasikan, maka pada tahun 1995, seorang ilmuan psikologi yang sampai saat ini menggeluti wacana Psikologi Islami  menerbitkan sebuah buku  Integrasi Psikologi dengan Islam Menuju Psikologi Islami adalah Hanna Djumhana Bastaman. Berbagai makalah yang ditulisnya pada berbagai pertemuan ilmiah dan artikel yang pernah dipublikasikannya dengan tema Psikologi Islami telah diperkenalkan menjadi sebuah karya yang utuh. Fuad Nashari Suroso, seorang psikolog muda, editor buku itu dengan kepiawaiannya berhasil menjadikan tulisan-tulisan terpisah-pisah itu terpadu dalam sebuah buku dengan alur pikir yang runtut.
Karya-karya tersebut bisa menjadi kerangka rujukan untuk menambah khazanah dalam pengembangan  teori-teori psikologi  yang diharapkan secara langsung menggambarkan karakteristik dan identitas yang semuanya bernuara pada nilai-nilai  Islami.

C.  Pengertian Psikologi Islami
Nama Psikologi Islami sebenarnya masih diperdebatkan, belum ada kesepakatan apakah Psikologi Islami atau Psikologi Islam. Penamaaan Psikologi Islami (Islamic Psychologi) dan bukan Psikologi Islam (Psychology of Islam) didasarkan pada  pandangan dunia Islam, tanpa melakukan penolakan terhadap pan-dangan yang positif dan konstruktif dari Barat. Hanna Djumhana Bastaman, Djamaluddin Ancok, Fuad Nashari Suroso, Subandi, adalah nama-nama yang setuju menggunakan istilah Psiklogi Islami.[14] Subandi (1994) menyampai-kan argumentasinya bahwa psikologi Islami lebih luas cakupannya, karena dapat menam-pung berbagai pemikiran, baik dari agama Islam sendiri maupun dari luar, sebab pada hakikatnya esensi nilai-nilai Islami tidak hanya monopoli pada agama Islam saja, tapi juga tersimpan dalam agama-agama dan tradisi pemikiran psikologi, baik dari Timur maupun Barat, sepanjang tidak bertentangan dengan ajaran Islam.[15]
Penggunaan nama Psikologi Islam dipelopori oleh Abdul Mujib & Jusuf Mudzakir, dengan alasan bahwa psikologi Islam merupakan salah satu dari kajian keislaman. Penempatan kata Islam di sini memiliki arti, corak, cara pandang, pola pikir, paradigma atau aliran psikologi yang dibangun bercorak ajaran Islam, sebagaimana yang berlaku dalam tradisi keilmuan Islam.[16]
Penggunaan nama Psikologi Islami lebih banyak digunakan di setiap seminar dan simposium Nasional Psikologi Islami di Indonesia. Ditandai dengan terbitnya buku-buku berlabel Psikologi Islami, kecuali buku Nuansa-nuansa Psikologi Islam (Abdul Mujub & Yusuf Mudzakir, 2001) dan Psikoterapi dan Konseling Islam (M. Hamdani Bakran Adz-Dzaky, 2001.
Nama lain yang juga digunakan adalah psikologi Profetik. Istilah ini dikemukakan oleh Yayah Khisbiyah (1998), sebuah pskologi yang didasarkan pada kenabian Muhammad Saw. Nama ini ia gunakan atas gagasan Kuntowijoyo dalam Paradigma Islam: Interpretasi untuk Aksi (1991) tentang ilmu sosial profetik.[17]
Saat ini, penggunaan nama Psikologi Islami disepakati oleh para cendekiawan dan psikolog muslim. Menurut Hanna Djumhana Bastaman dengan menggunakan istilah Psikologi Islami secara langsung tergambarkan karakteristik dan identitasnya bersumber pada nilai-nilai Islami. Nama ini lebih luwes dan luas dari pada nama-nama lain untuk sebuah gerakan islamisasi psikologi yang sampai saat ini maih diperdebatkan dan memerlukan kesepakatan lebih lanjut dari para psikolog Muslim mengenai wawasan, landasan, ruang lingkup, fungsi, tujuan dan metodologinya.[18]
Dari ulasan pemikiran mengenai wawasan, landasan, ruang lingkup, fungsi, tujuan dan metodologi Psikologi Islami.[19]  Hanna J. Bastaman memberikan  rumusan Psikologi Islami sebagai berikut:
Psikologi Islami adalah corak psikologi berlandaskan citra manusia menurut ajaran Islam, yang mempelajari keunikan manusia dan pola perilaku manusia sebagai ungkapan pengalaman interaksi dengan diri sendiri, lingkungan sekitar, dan alam keruhanian, dengan tujuan meningkatkan kesehatan mental dan kualitas keberagamaan.[20]
Rumusan di atas mengandung beberapa unsur: pertama, corak psikologinya, artinya sebuah gerakan Islamisasi Psikologi, bahkan bisa menjadi mazhab psikologi mutakhir yang berlandaskan nilai-nilai ajaran Islam dengan tidak mengesampingkan metodologi dan metode ilmiah. Kedua, berdasarkan citra manusia menurut ajaran Islam, artinya berbeda dengan psikologi sekuler yang landasan filosofisnya bermacam-macam dan orientasi filosofisnya memberikan otoritas tertinggi kepada kehendak manusia. Sedangkan manusia menurut ajaran Islam, memiliki martabat tinggi sebagai khalifah fi al-ardi, diciptakan sebagai makhluk yang sempurna dan sesuai dengan fitrahnya hanif (kecenderungannya mono-theisme–mentauhidkan Allah), serta memiliki ruh di samping diri (nafs) dan akal (aql). Ketiga, keunikan dan pola perilaku manusia. Perilaku manusia merupakan obyek telaah Psikologi Islami dan psikologi. Perilaku manusia adalah ungkapan manifestasi dan ekspresi jiwa yang melibatkan fungsi-fungsi jiwa, yakni: perasaan, pikiran, sikap, pandangan dan keyakinan hidup. Keempat, interaksi dengan diri sendiri, lingkungan sekitar, dan alam keruhanian. Salah satu karakteristik manusia adalah adanya kesadaran untuk selalu introspeksi, berdialog dengan dirinya sendiri, dan selalu berhu-bungan dengan lingkungan alam fisik. Manusia dalam perspektif psikologi Islami memiliki ruh yang seharusnya memperluas lahan kajiannya dengan pengalaman keruhanian manusia. Kelima, meningkatkan kesehatan mental dan kualitas keberagamaan. Tujuan utama psikologi dan psikologi Islami adalah mental health. Kriteria sehat mental antara lain: terbebasnya individu dari gejala-gejala kejiwaan (neuroses) dan gejala-gejala penyakit psikhis (psychoses), mampu beradaptasi dalam pergaulan sosial, terjadinya harmonisasi diantara fungsi-fungsi jiwa, yakni: pikiran, perasaan, sikap, pandangan dan keyakinan hidup, serta mampu mengoptimalkan dan merealisasikan potensi diri. Individu yang memenuhi kriteria sehat dalam perspektif Psikologi Islami menjadi salah satu tujuan, karena kondisi sehat mental merupakan hal yang kondusif bagi pening-katan kualitas religiusitas sebagai ungkapan iman dan taqwa kepada Tuhan. Inilah misi utama psikologi Islami, yaitu membantu mengembangkan individu dan masyarakat yang sehat mental sekaligus meningkatkan kualitas keimanan dan ketaqwaan.

D. Perkembangan Psikologi Islami
Kini dunia Islam berada di bawah pengaruh budaya sekuler Barat, banyak mahasiswa muslim sangat tergila-gila terhadap semua aspek peradaban yang datang dari Barat, termasuk teori-teori Psikologi Barat. Malik B. Badri dalam bukunya Dilema Psikologi Muslim mengungkapkan:[21] ada tiga fase perkembangan sikap psikolog muslim terhadap psikologi modern yang berasal dari Barat, yaitu: fase infantuasi, fase rekonsiliasi dan fase emansipasi.
Pada fase pertama, mahasiswa muslim sangat terpesona dengan teknik dan teori-teori psikologi modern. Mereka mengikuti sepenuh-nya teori dan metode psikologi sekuler tanpa kritik. Fase kedua, adalah fase penerimaan, mereka mencoba mengadakan studi komperatif, dan mencoba mencocokkan apa yang ada dalam teori psikologi Barat dengan apa yang ada dalam al-Qur’an. Mereka beranggapan di antara keduanya memiliki kesejalanan (paralelisasi) dan tidak ada pertentangan. Fase terakhir, mereka makin bersikap kritis terhadap pandangan-pandangan psikologi sekuler dan mengalihkan perhatian-nya pada al-Qur’an, al-Hadits dan khazanah klasik Islam yang di dalamnya ternyata membahas tentang struktur insan (nafs, qlb, aql, ruh). Menyadari akan kekeliruannya, mereka mulai kritis menentang beberapa teori dari psikologi sekuler, terutama pandangan teori psikoanalisa dan behaviorisme, karena kedua teori itu merendahlan martabat manusia sebagai hamba dan khalifah Allah, sedangkan pandangan humanistik yang mengakui potensi diri manusia dianggap sejalan dengan ajaran Islam.
Berangkat dari asumsi itu maka dapat dirumuskan bahwa problem yang dihadapi umat Islam adalah sebagai berikut:
1.   Bagaimana psikologi mencoba menerang-kan berbagai problem yang dihadapi oleh kaum muslimin dalam kehidupannya.
2.   Bagaimana melakukan telaah kritis terhadap konsep-konsep dan teroi-teori psikologi yang dipandang menyimpang dari ajaran Islam.
3.   Bagaimana menawarkan konsep alter-natif tentang psikologi, yakni dengan membangun konsep islamisasi  psikologi.
Untuk memecahkan berbagai persoalan di atas, meminjam tipologi Jamaluddin Ancok, setidaknya pengembangan Psikologi Islami dapat dibagi menjadi tiga cara. Pertama, psikologi dipakai sebagai pisau analisis masalah-masalah psikologis umat Islam. Kedua, Islam dijadikan “pisau analisis bagi pengkajian psikologi. Ketiga, membangun konsep psikologi baru yang didasarkan pada nilai-nlai Islam.[22]
Dua cara tersebut di atas memiliki keunggulan sekaligus kelemahan. Usaha pertama mempunyai kelebihan, yaitu kita memanfaatkan psikologi untuk memberikan penjelasan problem umat Islam serta mening-katkan sumber daya umat Islam. Sedangkan kekurangannya bahwa konsep-konsep psikologi mempunyai keterbatasan dan bahkan kemung-kinan bias yang sangat besar, karena seringkali mereduksi  Islam ke dalam pengertian yang parsial dan tidak utuh.[23]
Cara kedua, keunggulannya adalah mencoba melakukan studi kritis terhadap psikologi sehingga mengetahui kelebihan dan kelemahan konsep psikologi. Kelemahan cara ini adalah awal berpijak pembahasannya adalah menggunakan konsep psikologi, sehingga sering kali terjebak dalam memandang persoalan lebih berangkat dari pemahaman terhadap konsep psikologinya daripada Islamnya.[24]
Sudut pandang yang ketiga, mencoba membangun konsep psikologi baru yang didasarkan pada wawasan Islam. Bisakah langkah-langkah ini direalisasikan?
Menelisik kandungan al-Qur’an, maka tampaknya berpeluang kepada kita untuk membangun konsep Psikologi yang berwawasan Islam, melalui al-Qur’an, Sunnah Nabi, dan khazaanah pemikiran Islam klasik yang banyak menyediakan reperensi untuk merintis penyusunan Konsep Psikologi Islami. Contoh dalam al-Qur’an banyak memberikan informasi ilmiah tentang fitrah, qalb, aql, nafs. Tugas kita adalah memformulasikan dalam sebuah konsep yang sistematis. Ke depan kita perlu mengembangkan suatu kajian atas  dasar konsep Islam yang mampu menerangkan apa dan siapa sesungguhnya manusia yang didukung melalui riset-riset yang maju dan pubikasi yang luas.[25]
Apabila memperhatikan literatur Psikologi Islam yang berkembang di Indonesia, Zakiyah Daradjat, misalnya dengan sejumlah karya-karyanya telah menempati semua kategori cara tersebut. Dalam beberapa karyanya antara lain: Ilmu Jiwa Agama; Kesehatan Menal; Perawatan Jiwa untuk Anak-anak, dan Pendidikan Agama dan Kesehatan Mental. Dalam buku-bunya tersebut, ia mencoba mengelaborasikan pemikiran psikologinya ke dalam kategori cara kedua. Buku yang lain: Pokok-pokok Kesehatan Mental dan Ilmu Jiwa, tergolong pada kategori cara pertama. Dalam karya buku Shalat Menjadikan hidup Bermakna (1988); Kebahagiaan; Haji yang Unik; Puasa meningkatkan Kesehatan Mental (1989); Doa Menunjang Semangat Hidup (1990); Zakat Pembersih Harta dan Jiwa (1991). Daradjat dalam tulisannya ini lebih banyak mengembangkan cara yang ketiga.
Perkembangan wacana psikilogi Daradjat ini menunjukkan bahwa ia dipandang sebagai psikolog muslim kontemporer Indonesia. Wacana psikologi yang dikembangkan Daradjat mendapat pertanyaan dari Kuntowijoyo dalam bukunya “Paradigma Islam”, tentang paradigma pemikiran apa yang digunakan oleh Daradjat. Oleh karenanya diperlukan kajian penelitian untuk merumuskan paradigma yang digunakan.
Cara kedua dikembangkan oleh Djamaluddin Ancok dan Fuat Nashari Suroso dalam karyanya Psikologi Islami, Solusi Islam atas Problem-problem Psikologi, dan Hanna Djumhana Bastaman dalam karyanya Integrasi Psikologi dengan Islam, Menuju Psikologi Islami. Ketiga karya tersebut tidak hanya mengemukakan konten psikologi, melainkan juga menyusun paradigmanya. Dengan beranjak dari pola Islamisasi yang ditawarkan Ismail Raji al-Faruqi, Ancok, Bastaman, dan Nashori memberi wawasan baru dalam diskursus Psikologi Islam kontemporer di Indonesia.
Meskipun ketiga psikolog itu telah memberikan  paradigma Psikologi Islami di Indonesia, namun bisa jadi mereka terjebak dalam frame sekuler yang menyalahi kode etik ilmiah qur’ani, bahkan dapat terperosok dalam “liang biawak” meminjam istilah Malik B. Badri, seperti menyamakan konsep al-ruh dengan spiritual.
Sukanto Mulyomartono dalam karyanya Nafsiologi; Suatu Pendekatan Alternatif atas Psikologi (1986) bersama A. Dardari Hasyim dalam judul buku yang telah disempurnakan Nafsiologi: Refleksi Analisis tentang Diri dan Tingkah Laku Manusia (1995).[26] Dengan optimis, ia mencoba mengelaborasi substansi ajaran Islam ke dalam wacana psikologi, sehingga tercipta psikologi baru yang berlabel Islam. Nafsiologi yang ditawarkan dapat dijadikan acuan bagi para psikolog muda Indonesia untuk menyusun psikologi Islami. Hampir sama dengan Mulyomartono, Azzaino telah memberikan garis pemisah yang jelas antara psikologi Islam dengan psikologi kontemporer Barat. Melalui Struktur ruh, Azzaino menawartkan psikologi Ilahiyah. Struktur ruh (yang ditiupkan Allah kepada Manusia) inilah yang membedakan antara psikologi Islam dengan psikologi Barat, sehingga dalam psikologi Islam ini mampu mengenal Tuhan, Agama, dan alam transenden. Sementara psikologi Barat belum menjangkau wilayah ruh tersebut. Walaupun mereka menggunakan istilah ruh (neotic), tentu berbeda maksudnya dengan ruh dalam Islam.[27]

E.   Psikologi Islami Sebagai Pendekatan
Empat aliran  psikologi yang sudah berdiri saat ini adalah psikoanalisis, behavioristik, humanistic dan psikologi transpersonal. Keempat pendekatan ini belum mampu menjawab secara integral tentang karakteristik dan essensi perilaku manusia. Maka disepakati bahwa salah satu visi psikologi Islami adalah sebagai mazhab kelima, menjadi aliran yang independen, yang diharapkan mampu menjawab tantangan tersebut dan memililki pandangan-pandangan yang khas.[28]
Interpretasi   dari dialog tersebut, maka ada beberapa paradigma khas psikologi Islami, yaitu:
Pertama, memercayai bahwa hakikat manusia adalah fitrah, baik secara jasadi, nafsani (kognitif dan afektif), maupun ruhani (spiritual). Tentang fitrah secara spiritual, Ibn Taimiyah mengungkapkan bahwa fitrah manusia adalah memiliki pengetahuan tentang Allah, mencintai Allah dan memiliki komitmen untuk melaksanakan agama Allah. Rujukan yang sering digunakan adalah QS. al-Rum [30]:30, “Maka hadapkanlah wajahnya dengan lurus kepada agama Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”. Rujukan lain adalah sebuah hadits shahih yang terkenal: “Seseorang tidak dilahirkan kecuali dalam keadaan fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, dan Majusi”.[29]
Secara nafsani, pertama manusia memiliki cinta, ingin menyenangkan diri sendiri dan orang lain, memiliki kemampuan mengetahui, memahami, menciptakan. Psikologi Huma-nistik mengakui secara alamiah manusia memiliki potensi baik, namun tidak pernah mengakui adanya pengetahuan-cinta-komitmen kepada Allah.
Kedua, mempercayai bahwa salah satu komponen terpenting manusia adalah qalb (hati nurani). Perilaku manusia tergantung kepada qalbunya yang secara fisik disebut mudghah.[30] Rujukan yang sering digunakan adalah sebuah hadits sahih: ”…ingatlah bahwa sesungguhnya dalam jasad manusia terdapat mudghah. Jika mudghah itu baik, maka baiklah seluruh tubuh. Jika mudghah itu rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Mudghah itu adalah qalbu”.[31]
Di samping jasad, akal, manusia memiliki qalbu. Dengannya manusia dapat mengetahui sesuatu (di luar nalar), kecenderungannya kepada yang benar dan bukan yang salah (termasuk memiliki kebijaksanaan, kesabaran) dan memiliki kekuatan yang mempengaruhi benda dan peristiwa. Nabi-nabi dan Rasul-rasul adalah contoh pribadi-pribadi yang qalbunya berkembang optimal, sehingga mereka dapat mengetahui sesuatu yang tidak tampak dengan cara yang tidak biasa (melalui wahyu/ilham), tidak pernah goyah berpegang pada nilai kebenaran, dan memiliki berbagai kemampuan mempengaruhi sesuatu  (seperti psychokinetik,[32] out of body experience).
Pandangan psikologi Islami tentang kalbu berbeda dengan psikologi Barat yang dalam menjelaskan sesuatu selalu menggunakan pendekatan rasional (otak). Otak manusia menurut psikologi Barat adalah pusat kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual. Padahal sebenarnya manusia memiliki unsur-unsur psiko-spiritual meliputi al-‘aql, al-qalb, dan al-nafs. Unsur pembentukannya (elemen asalnya) adalah al-jism dan al-ruh.
Ketiga, memercayai bahwa arah pergerakan hidup manusia secara garis besar dibagi menjadi dua. Allah Swt telah mengisyaratkan adanya dua jalan bagi manusia, yaitu jalan taqwa dan jalan fujur. Rujukannya adalah bahwa manusia diciptakan dalam keadaan fitrah dan ia bergerak ke arah taqwa. Bila manusia berjalan lurus antara fitrah dan Allah, maka ia akan menjadi taqwa (sehat, selamat). Sebaliknya, jika tidak lurus antara fitrah dan Allah maka ia akan berjalan ke pilihan yang sesat (fujur). Secara fitrah, manusia diciptakan dengan penuh cinta, memiliki cinta, namun ia dapat berkembang ke arah agresi (al-ghadhab). Tugas psikologi Islami adalah agar manusia selalu lurus dengan fitrahnya.
Keempat, memercayai bahwa manusia adalah unik. Quraish Shihab menyebutkan khalqan akhir.[33] Keunikan manusia bukan hanya secara jasadi, nafsani, tapi juga ruhani. Misalkan seseorang yang karena dido’akan oleh ayah atau kakeknya yang ‘alim secara ruhaniah lebih kuat, lebih mudah mencapai keberhasilan dibandingkan dengan yang tidak dido’akan.
Kelima, psikologi Islami dibangun berdasarkan nilai tertentu, bukan netral etik. Kita percaya bahwa setiap aliran pasti dipengaruhi nilai tertentu. Psikoanalisis Freud banyak menggunakan pemikiran Darwin (misalnya manusia tidak lebih dari binatang). Behaviorisme Watson menggunakan rujukan filsafat empirisme (misalnya manusia semata-mata dipengaruhi oleh lingkungannya). Psikologi islami berangkat dari nilai-nilai  Islam. Gagasan tentang ilmu yang netral etik, sebagaimana diungkapkan Gunnar Myrdal adalah khayalan belaka. Setiap ilmu berangkat dari nilai-nilai-nilai dan mengembangkan nilai-nilai.

F.   Posisi Psikologi Islami terhadap Psikologi Barat
Psikologi Islami pada umumnya memandang bahwa teori yang berasal dari Barat boleh jadi bersesuaian dan bisa jadi bertentangan dengan pandangan dunia Islam. Jika bersesuaian, maka ia dapat direkonstruksi ke dalam paradigma psikologi Islami. Pandangan Dollard dan Miller tentang frustration-agression hypothesis yang mengung-kapkan bahwa prustrasi akan menimbulkan rasa marah dan rasa marah akan memunculkan agresivitas adalah pandangan yang dapat diterima oleh psikologi Islami. Cerita  al-Qur’an tentang frustrasi Qabil yang gagal menyunting Iqlima yang cantik dan berakhir pembunuhan atas diri Habil adalah contoh dari kesesuaian teori Dollard dan Miller tersebut.[34]
Namun, yang tidak benar adalah pernyataan setiap frustrasi/kemarahan akan menghasilkan agresi. Psikologi Islami memiliki teori yang disebut al-Basith (kelapangdadaan), yaitu sebuah ruang yang luas dalam qalbu manusia yang memungkinkannya menerima realitas apapun, termasuk yang pahit sekalipun. Nurani tetap menyerahkan diri kepada Allah. Salah satu firman Allah berkaitan dengan kelapangdadaan: “Bukanlah Kami telah meluaskan dadamu untukmu.[35]
Ali bin Abi Thalib tidak mau menggoreskan pedang di leher seorang kafir, karena ia tidak mau pembunuhan terjadi karena hawa nafsunya. Sedemian lapangnya hati nurani seseorang hingga ia tidak pernah sakit hati  saat didzalimi oleh orang banyak sekalipun. Dengan kelapangdadaannya, Nabi Muhammad Saw. berdo’a terhadap penduduk Thaif yang melempari dengan batu dan mengusirnya. Dengan basith di hatinya, nabi Muhammad Saw menerima realitas seperti itu, saat diludahi orang Yahudi, bahkan ketika orang itu tidak pernah meludahinya kembali, nabi menanyakan dan mengunjunginya. Sikap seperti ini (al-akhlaq al-mahmudah) yang diperlihatkan oleh Nabi memperoleh simpati yang luar biasa.
Beberapa pandangan psikologi Barat kontradiktif dengan pandangan Islam dan tentu saja tidak bisa diterima. Freud misalnya beranggapan bahwa shalat adalah perilaku obsessif kompulsif, bahwa beragama sebagai ilusi, keyakinan akan Tuhan sebagai pengalihan Oedipus Complex,[36] bahwa kebaikan dan kebenaran (biasa disebut dalam konsep Freud sebagai superego) hanya berasal dari diri manusia dan tidak inheren dalam diri manusia, jelas ditolak mentah-mentah oleh psikologi Islami.
Secara tegas, yang membedakan antara psikologi sekuler dengan psikologi Islami adalah  dari orientasi filosofisnya. Psikologi Barat memandang manusia sebagai pusat segala kehendak, pusat segala relasi (antrophosentris), sedangkan psikologi Islami memandang manusia di samping diberikan kebebasan untuk berusaha dan berikhtiar, dan berrelasi, tetapi Tuhanlah sebagai pusat relasi dan semua keputusan vonis berada di atas iradah-Nya (antropho-theosentris). Dalam rumusan konsep manusia dan cara mendekati-nyapun berbeda, psikologi Barat semata-mata hanya menggunakan kemampuan intelektual untuk menemukan dan mengungkap asas-asas kejiwaan, sementara psikologi Islami mendekatinya dengan memfungsikan akal dan keimanan.

G. Menuju Riset Psikologi Islami
Dalam buku  Psikologi Islami: Agenda menuju Aksi (1997), Fuad Anshari mengemukakan bahwa perkembangan psikologi dibagi ke dalam lima tahap, yaitu: fase  terpesona, fase kritik, fase perumusan, fase penelitian dan fase penerapan.[37]
Fase terpesona ditandai oleh kekaguman terhadap teori-teori psikologi Barat, yang karena demikian takjubnya, hingga memunculkan psikologisme (apa-apa yang dianalisis secara psikologis). Fase kritik, ditandai oleh semangat meneliti, menelaah secara objektif, tajam dan kritis atas teori-teori psikologi Barat dan tentunya penolakan atas teori-teori psikologi Barat. Kedua fase ini dianggap sebagai persiapan pembentukan psikologi Islami atau fase-fase pra-psikologi Islami.
Fase berikutnya adalah perumusan teori. Berangkat dari pemahaman al-Qur’an dan al-Hadits serta penafsiran atas keduanya, dilengkapi dengan ayat-ayat nafsani (apa yang kita lihat dalam diri manusia), maka dapat dirumuskan teori psikologi Islami. Agar kokoh, kuat, maka teori harus ditopang oleh riset, sehingga teori itu  konsisten dengan data, maka fase selanjutnya adalah melakukan penerapan. Bagian ini akan menjelaskan apa yang dapat kita lakukan untuk meriset psikologi Islami.[38]
Dalam perumusan psikologi Islami (berdasarkan pandangan dunia Islam), yang terpenting adalah objektifikasi (Kuntowijoyo, 1991). Objektifikasi adalah proses mengubah pandangan-pandangan yang normatif menjadi pandangan yang objektif atau menjadi teori yang dapat diukur. Teori yang baik, sebagaimana selama ini kita pahami, memiliki ciri-ciri: (a) konsisten secara logis, (b) bisa diuji, (c) konsisten dengan data. Teori sekurang-kurangnya memiliki keterkaitan dua hal. Bila hubungan antara hal yang satu dan yang lain itu logis, maka ia memenuhi ciri konsisten secara logis. Bisa duji berarti bahwa teori tersebut dapat diukur secara empiris. Agar dapat diukur secara empiris, biasanya  disebut ciri-ciri, aspek-aspek, komponen-komponen. Konsisten dengan data artinya setelah dicek di dalam realita kehidupan, ternyata teori itu didukung oleh kenyataan yang ada dalam kehidupan.[39]
Sebagai contoh, ayat “Shalat mencegah dari kekejian dan kemungkaran”[40] dapat dirumuskan teori “dzikir dapat memiliki hubungan negative dengan vandalism dan agresifitas”. Shalat adalah bentuk dzikir yang dapat menghasilkan ketenangan. Ketenangan melahirkan kemam-puan konsentrasi secara terarah, menghasilkan kesadaran akan kehadiran Tuhan dalam dirinya dan tanggung-jawab yang diembannya sebagai manusia menghasilkan kebijaksanaan. Kompon-komponen shalat yang merupakan aspek terapeutik yang terdapat dalam shalat misalnya, adalah aspek olah raga, meditasi, kebersamaan dan aspek auto-sugesti.[41] Berdasarkan indikator-indikator itu dapat dibuat alat ukur dan dilakukan pengukuran. Dari data yang ada di lapangan, akan diketahui apakah rumusan teori konsisten dengan data.
Sejauh ini telah dimulai usaha-usaha untuk merumuskan pandangan-pandangan khas psikologi Islami. Misalnya tentang kisah mimpi yang diceritakan  al-Qur’an maupun Hadits dalam berbagai pengalaman dapat dirumuskan bahwa mimpi (al-ra’yu) yang dialami manusia memiliki beberapa jenis, yaitu mimpi jasadi (fisik), mimpi nafsani (psikologis), dan mimpi ruhani (mimpi spiritual, mimpi yang benar, al-ra’yu al-haqq atau disebut juga mimpi nubuwat). Mimpi nubuwat terdiri atas mimpi prediktif, mimpi retrospektif,[42] mimpi petunjuk, mimpi peringatan, hukuman (punishment), dan mimpi memiliki kekuatan. Mimpi-mimpi tersebut, setelah diteliti di lapangan ternyata ditemukan fakta adanya mimpi-mimpi psiko-spiritual.

H. Penutup: Kurikulum Psikologi Islami
Di perguruan-perguruan tinggi Islam, kini sudah ditawarkan mata kuliah psikologi dalam kurikulum menandakan dianutnya system subject curikulum. Selanjutnya bagaimana kita mampu mengusahakan dan menggolkan masuknya psikologi Islami ke dalam kurikulum, apalagi IAIN sudah menjadi Universitas, dan di dalamnya sudah didirikan fakultas psikologi, maka  kurikulum yang berbasis psikologi Islami menjadi keharusan untuk dilakukan dan harus menjadi pioner, bahkan fakultas-fakultas non-UIN juga bisa memasukkan psikologi Islami ke dalam kurikulum. Apabila cara ini ditempuh maka penyebaran ide psikologi Islami akan lebih mudah tercapai.
Sesungguhnya ada pilihan lain, yaitu integrated  curriculum. Seluruh mata kuliah psikologi dibingkai oleh perspektif Islam. Semua mata kuliah psikologi dibangun oleh pandangan dunia Islam. Dan ini sesuai dengan paradigma UIN Sunan Gunung Djati Bandung  yaitu “wahyu memandu Ilmu”. Artinya kebenaran materialnya didasarkan pada pandangan-pandangan dunia Islam. Seluruh mata kuliah telah mengalami islamisasi. Kalau langkah ini yang dipilih, maka perlu  dilakukan upaya serius untuk menanganinya.
Adapun langkah-langkah yang perlu ditempuh menurut Djamaluddin Ancok dan Fuad Nashari adalah sebagai berikut:[43]
1.   Penguasaan Khazanah Islam tentang jiwa dan perilaku manusia,
2.   Penilaian kritis atas khazanah Islam,
3.   Penguasaan khazanah psikologi modern,
4.   Penilaian kritis terhadap disiplin psikologi modern,
5.   Survey problem-problem manausia masa kini (fisik, psikologis, spiritual),
6.   Analisis kreatif dan sintesis,
7.   Merumuskan kembali teori-teori psikologi berdasarkan framework Islam,
8.   Pengembangan  riset untuk menopang  teori psikologi Islami,
9.   Penerbitan/publikasi.[]



                                               
DAFTAR PUSTAKA

Ancok, Jamaluddin Ancok & Fuad Nashori, Psikologi Islami, Pustaka Pelajar, Jogyakarta, 2005.
Asyarie, Sukmadjaya & Rosy Yusuf, Indeks Al-Wur’an, Pustaka, Bandung, 1984.
Baharuddin, Paradigma Psikologi Islami, Pustaka Pelajar, Yogjakarta, 2007.
Bastaman, Hanna D. Bastaman, Integrasi Psikologi dengan Islam,Pustaka Pelajar Jogyakarta,1997.
Chaplin, P. J., Kamus, Dictionary of Psychology, Penterj. Kartini Kartono, Rajawali Pers, 2000, Jakarta, cet. Ke-6,
Daradjat, Zakiah, Islam dan Kesehatan Mental, Gunung Agung, Jakarta,1995.
__________, Kesehatan Mental, Gunung Agung, Jakarta, 1995.
__________, Ilmu Jiwa Agama, Bulan Bintang, Jakarta, 1970.
Departemen Agama.  al-Qur’an dan Terjemahnya,
Frager, Robert. (1999)  Heart, Self & Soul. The Sufi Psychology of Growth Balance & Harmony. Wheaton: The Theosophical Publishing House, 1999.
__________, Psikologi Sufi untuk Transformasi Hati, Diri, & Jiwa.  Alih Bahasa Hasmiyah Rauf, Jakarta, Serambi, 2002.
Husain, M.G., Psychology and Society in Islamic Perspective, Penterj.
Karsidi Diningrat, Psikologi dan Masyarakat dalam perspektif Islam, Pustaka, Bandung, 1996.
Jamaluddin, Dadan dkk. Psikologi Islami, alternative pendekatan lewat kacamata Islam, diskusi reguler jurusan Tasawuf Psikoterapi, Fakutas Ushuluddin, 2006.
Muhammad, Hamid Ibn  Al-Ghazali, Ihyâ ‘Ulûmu Al-Dîn. Bairut-libnan, Dâr al-Fikr, 1415 H/1995M. 
Mujib, Abdul & Yusuf  Mudzakir, Nuansa-nuansa Psikologi Islam,2001.
__________, Fitrah & Kepribadian: Sebuah Pendekatan Psikologis, Darul Falah, Jakarta, 1999.
Malik B. Badri, The Dilemma of Muslim Psychologists, terj. Siti Zainab Luxfiati, Pustaka Firdaus, 1996, cetakan ke-6
Najati, Muhammad Utsman, 2004. Psikologi Dalam Perspektif Hadits. (Alih Bahasa Zaenuddin Abu bakar dkk), Jakarta, Pustaka.














































Tasawuf dan Masyarakat Modern (Solusi Sufistik Terhadap Krisis Spiritual pada Masyarakat Modern)



Tasawuf dan Masyarakat Modern
(Solusi Sufistik Terhadap Krisis Spiritual pada Masyarakat Modern)

Oleh
Muhammad Syamsuddin
Mahasiswa Pasca Sarjana STAIN Pekalongan

A.   Pengertian dan Akibat Moderinisasi
Proses modernisasai seringkali ditandai disamping oleh pesatnya perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Tehnologi, juga adannya pengagungan terhadap nilai-nilai yang bersifat materi dan meninggalkan unsur-sunsur yang sifatnya spiritual. Kemajuan IPTEK ini telah banyak membawa perubahan bagi masyarakat, terutama dalam cara berpikir, bersikap, dan bertingkah laku dalam berbagai aspek kehidupan, seperti bidang ekonomi, sosial, politik, budaya bahkan agama dan lain-lain.
Jika manusia tidak mampu mengantisipasi cepatnya perkembangan ilmu pengetahuan tersebut, maka akan menimbulkan ketidak-seimbangan antara aspek jasmaniyah dan aspek ruhaniyah. Ketidak-seimbangan itu dapat dijumpai dalam realitas, di mana banyak manusia yang sudah hidup dalam lingkup peradaban modern dengan menggunakan berbagai teknologi, tetapi dalam menempuh kehidupan, terjadi distorsi-distorsi nilai kemanusiaan, terjadi dehumanisasi yang disebabkan oleh kapasitas intelektual, mental dan jiwa yang tidak siap untuk mengarungi samudera peradaban modern.
Kurangnya kemampuan manusia bermain dalam percaturan peradaban modern yang terus melaju, menyebabkan sebagaian besar manusia modern terperangkap dalam situasi yang menurut Rollo May, seorang Psikolog Humanis, disebut sebagai “manusia dalam kerangkeng”, yaitu suatu istilah untuk menggambarkan derita manusia. Dalam keadaan yang demikian, manusia seperti ini sudah kehilangan makna, manusia kosong (the holloq man), sehingga ia tidak tahu lagi apa yang harus diperbuat dan tidak mampu memilih jalan hidup yang diinginkan.
Dalam terminologi sosiologis, keadaan yang demikian biasa disebut sebagai gejala keterasingan atau alienasi. Di antara penyebabnya yaitu:
1.      Perubahan sosial yang berlangsung sangat cepat
2.      Hubungan hangat antar manusia sudah berubah menjadi hubungan yang gersang
3.      Lembaga tradisonal sudah berubah menjadi lembaga rasional
4.      Masyarakat yang homogen sudah menjadi heterogen
5.      Stabilitas sosial berubah menjadi mobilitas social

Akibat yang ditimbulkan dari gaya hidup modern yang lebih mementingkan dunia materi dan mengabaikan aspek-aspek batini yaitu terjadinya gangguan kejiwaan, seperti kecemasan, kesepian, kebosanan, perilaku menyimpang, psikosomatis, dan lain sebagainya.
Modernisasi merupakan suatu persoalan yang harus dihadapi masyarakat yang bersangkutan, oleh karena proses tersebut meliputi bidang-bidang yang sangat luas, menyangkut proses disorganisasi, problema sosial, konflik antar kelompok, hambatan terhadap perubahan dan sebagainya.
Oleh karena kata modern ini dapat diartikan dengan bermacam-­macam maksud, baik makna denotasi maupun konotasi, maka untuk memudahkan pembahasan ini penulis mencoba merumuskan bahwa masyanakat modern adalah perkembangan peradaban manusia secara keseluruhan dimana unsur kebudayaan, ilmu pengetahuan, sosial ekonomi, politik dan lain sebagainya menunjukkan peluang-­peluang kearah pola baru melalui sosialisasi dan pola kelakuan yang berwujud pada aspek-aspek kehidupan modern, misalnya mass media yang teratur, peningkatan pendapatan perkapita, ilmu pengetahuan makin maju atau dengan kata lain perubahan peradaban masyarakat dan bentuk lania menjadi bentuk-bentuk baru yang ditimbulkan oleh ilmu pengetahuan dan teknologi.
Ciri-ciri dari dunia modern yaitu ketergantungan manusia yang semakin meningkat kepada rasio serta pencapaian ilmu dan teknologi, yang ketergantungan kemampuan usahanya sendiri tanpa bantuan kekuatan super natural. Dengan demikian yang memegang peranan utama dari ciri-ciri masyarakat modern adalah Ilmu pengetahuan modern dan teknologi modern.
Ilmu pengetahuan modern selalu memandang jauh ke depan, sehingga ilmu pengetahuan itu tidak berhenti pada suatu tapal batas, oleh sebab itu eksplorasi dan research merupakan bagian mutlak dari ilmu pengetahuan modern. Dengan ilmu pengetahuan modern, manusia akan dapat belajar untuk memanfaatkan dan menguasai alam sekelilingnya, sehingga semua keadaan dapat diperhitungkan. Justru itulah ketergantungan orang-orang modern lebih meningkat pada rasio dan akal dan akhirnya mereka tidak percaya dengan adanya nasib atau taqdir yang datangnya dari Maha Pencipta. Mereka lebih percaya dengan kemampuan dan usaha sendini tanpa bantuan supernatural.[i]
Kehidupan modern yang berpangkal dari ilmu pengetahuan dan teknologi modern akan memberikan kemudahan-kemudahan dalam berbagai aspek kehidupan di dunia ini, misalnya masalah ekonomi, transportasi, komunikasi, sosial, budaya dan lain-lain. Kesemuanya dapat memenuhi kebutuhan hidup hingga akan nampaklah kemakmuran bagi masyarakat modern. Hal ini dapat dilihat di kota-kota besar yang tampak gemerlapan dengan bermacam-­macam bentuk bangunannya, seperti pasar-pasar swalayan yang menyediakan beraneka ragam barang kebutuhan sampai kepada barang-barang mewah, hotel-hotel berbintang dengan segala macam fasilitasnya dan pelayanan, bahkan ada di antananya yang menyediakan pelayanan untuk melakukan prostitusi. Ada pula kawasan perumahan elite dengan segala kelengkapan peralatan yang comfort (serba enak). Belum lagi sarana komunikasinya yang serba canggih, sehingga dunia yang luas ini terasa kecil. Hubungan antara individu, suku, bangsa dan negara semakin mudah. Jarak tdak lagi menjadi masalah untuk berhubungan. Kejadian yang ada di belahan bumi bagian barat dapat diketahui dan disaksikan oleh orang-orang yang berada di belahan bumi bagian timur, utara, selatan dan lain sebagainya.
Perbedaan bahasa tidak menjadi kendala untuk berhubungar antana satu dengan yang lainnya. Tidak ada lagi rahasia yang dapat disembunyikan oleh sesuatu negana atau bangsa, karena peralatan yang diciptakan melalui teknologi modern memungkinkan untuk dapat mencari rahasia tersebut. Tempat yang dulu dirasakan sangat mustahil untuk dijangkau dalam waktu singkat, sekarang dengan mudah dan cepat dapat dijangkau.
Pengaruh modernisasi tersebut di atas apabila dipandang dari segi lahiriah, maka akan banyak menimbulkan dampak positif asl saja masyarakat (orang) pandai memanfaatkannya serta masih berpijak pada norma-norma agama.
Sebaliknya bila dilihat dari sisi lain, maka pengaruh modernisasi tersebut akan mendatangkan penganuh negatif terutama bagi mereka yang sudah melepaskan diri dari agama. Adapun dampak negatif dari kemajuan teknologi komunikasi bagi masyarakat, tenutama dalam kehidupan sosial keagamaan, adalah masuknya nilai-nilai yang tidak sesuai dengan kepribadian bangsa dan kehidupan agama, seperti boros, matrealistik.
Negara yang modern dan kaya belum tentu membawa kesejahteraan selama kekayaan itu hanya dapat dinikmati oleh sebagian masyarakat saja, kanena hal yang demikian akan menim­bulkan kegelisahan, kedengkian, kecemburuan serta kecunigaan sebagai akibat dari kesenjangan sosial, sehingga yang kaya akan bertambah lemah. Pada akhirnya akan terjadi persaingan yang ketat dalam perjuangan untuk mempertahankan hidup dengan tidak mengenal moral atau etika, masing-masing telah menjadi srigala untuk menenkam yang lain hingga terjadilah apa yang disebut dengan survival of the fittes (yang kuat akan menang dan yang lemah akan tensingkir).
Banyak orang terpukau dengan modennisasi, sehingga mereka lupa bahwa dibalik modernisasi yang serba gemerlap itu ada gejala yang dinamakan “The Agoni of Modernization” (sengsara karena modernisasi). Gejala kesengsaraan dan modernisasi yang merupakan stresson psikososial tersebut dapat disaksikan di dalam kehidupan di tengah-tengah masyarakat. Gejala itu antara lain; tidak adanya jaminan sosial, banyaknya penganggunan, kriminalitas yang semakin meningkat secana kualitas dan kuantitas dengan intensitas kekerasan. Sebagai konsekwensinya dalam kehidupan yang luas ini serta sikap hipokrit yag berkepanjangan, maka manusia modern mengidap gangguan kejiwaan antara lain berupa kecemasan, kesepian, kebosanan, perilaku menyimpang, psikosomatis, dan lain sebagainya.[ii]


B.     Problematika Spiritualitas di Era Modern
Manusia modern memperlakukan alam sama dengan pelacur, mereka menikmati dan mengekploitasi kepuasan darinya tanpa rasa kewajiban dan tanggungjawab apapun. Inilah yang menciptakan berbagai krisis dunia modern, tidak hanya krisisi dalam kehidupan spiritual tapi juga dalam kehidupan sosial sehari-hari.[iii]
Problem paling akut yang dihadapi manusia modern, tidak muncul dari situasi pembangunan yang terbelakang, tapi justru dari pembangunan yang berlebihan. Manusia modern yang memberontak melawan Allah, telah menciptakan sebuah sains yang tidak berlandaskan cahaya Allah melainkan yang berdasarkan kekuatan akal (rasio) manusia semata untuk memperoleh data melalui indera.
Sikap hidup yang mengutamakan materi (materialistik) memperturutkan kesenangan dan kelezatan syahwat (hedonistik) ingin menguasai semua aspek kehidupan (totaliteristik) hanya percaya pada rumus-rumus pengetahuan empiris saja, serta paham hidup yang bertumpu pada kemampuan akal pikiran manusia tampak lebih menguasai manusia yang memegang ilmu pengetahuan dan teknologi. Di tangan mereka yang berjiwa dan bermental demikian itu, ilmu pengetahuan dan teknologi modern memang sangat mengkhawatirkan. Mereka akan menjadi penyebab kerusakan di daratan dan di lautan sebagaimana di isyaratkan Al-Qur'an:
“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (QS. Al-Rum 30 : 41)
Dari sikap mental yang demikian itu kehadiran ilmu pengetahuan dan teknologi telah melahirkan sejumlah problematika masyarakat modern sebagai berikut :
1.      Desintegrasi Ilmu Pengetahuan. Kehidupan moden antara lain ditandai oleh adanya spesialisasi di bidang ilmu pengetahuan. Masing-masing ilmu pengetahuan memiliki paradigma sendiri dalam memecahkan masalah yang dihadapi.
2.      Pendangkalan iman. Lebih mengutamakan keyakinan kepada akal pikiran dari pada keyakinan religius. Pornografi dan budaya hidup liberal menyergap generasi muda.
3.      Kepribadian yang terpecah (Split personality). Karena kehidupan manusia modern dipolakan oleh ilmu pengetahuan yang coraknya kering nilai-nilai spiritual dan berkotak-kotak itu, maka manusianya menjadi pribadi yang terpecah (split personality). Jika proses keilmuan yang berkembang itu tidak berada di bawah kendali agama, maka proses kehancuran pribadi manusia akan terns bedalan. Dengan berlangsungnya proses tersebut. Semua kekuatan yang lebih tinggi untuk mempertinggi derajat kehidupan manusia menjadi hilang, sehingga bukan hanya kehidupan kita yang mengalami kemerosotan tetapi jugs kecerdasan dan moral.
4.      Penyalahgunaan IPTEK. karena terlepas dari spriritualitas. Kemampuan membuat senjata telah diarahkan untuk tujuan menjajah bangsa lain menindas yang lemah. Seperti yang ada kawasan timur tengah, seperti Libya, Suriah, Palestina, Irak, dan lain sebagainya.
5.      Pola hubungan materialistik. Memilih pergaulan atau hubungan yang saling menguntungkan secara materi.
6.      Stress dan frustasi. Jika tujuan tidak tercapai, sering berputus asa bahkan tidak jarang yang depresi.

Dalam masyarakat modern yang cenderung rasionalis, sekuler, dan materialis, ternyata tidak menambah kebahagiaan dan ketentraman hidupnya. Berkaitan dengan itu, Sayyid Hussein Nasr menilai bahwa akibat masyarakat modern yang mendewakan ilmu pengetahuan dan teknologi, mereka berada dalam wilayah pinggiran eksistensinya sendiri. Masyarakat yang demikian adalah masyarakat Barat yang telah kehilangan visi keilahian. Hal ini menimbulkan kehampaan spiritual, yang berakibat banyak dijumpai orng yang stres dan gelisah, akibat tidak mempunyai pegangan hidup.
C.     Fungsi Spiritualitas di Era Modern
Disinilah peranan tasawuf dalam kehidupan manusia modern menjadi sangat dibutuhkan. Sebab, disamping tasawuf mampu membangun aspek-aspek yang bersifat jasmaniyah, juga aspek-aspek yang sifatnya rohaniah, membangun pisik dan mental, membangun per­seorangan dan masyarakat, membangun bangsa dan negana. Hal ini disebabkan karena:
Pertama, orang sufi itu bersih dan suci, baik pakaian maupun makanannnya serta tempat tinggalnya, sehingga jasmaninya sehat, terhindar dari bermacam-macam penyakit yang biasa diderita oleh orang-orang yang banyak makan dan minuman keras. Dengan demikian ia dapat melaksanakan pekerjaan dengan sebaik-baiknya.
Kedua, orang sufi jiwanya tenang, hatinya tenang dan tentram, ia tidak takut serta tidak berduka cita. Apabila mendapat nikmat ia bensyukur dan apabila mendapat musibah ia dengan tenang mengucapkan “Inna lillahi wa inna Illaihi Raji‘un”, oleh sebab itu rohaninya bangun, mentalnya sehat, terhindar dari penyakit jiwa, penyakit syaraf, penyakit darah tinggi, stress dan bermacam-macam penyakit rohani lainnya yang biasa didenita oleh onang-onang yang gelisah dan knisis jiwa yang tidak dapat diobati oleh dokter jiwa.
Ketiga, onang sufi selalu melatih dirinya, berjuang melawan hawa nafsunya menurut ajanan Tasawuf. Dengan demikian ia mempunyai kepribadian yang kuat dan akhlaq yang tinggi, jiwa besar dan cita-cita tinggi.
Keempat, onang sufi, bila mengerjakan sesuatu pekerjaan baik pekerjaan duniawi maupun ukhrawi, dikerjakannya sebaik-baiknya dan sesempurna mungkin tanpa membuang waktu atau bermalas-malas. Karena ia bekerja dilandasi ikhlas karena Allah, untuk mengharapkan nidha-Nya.[iv]
Dari uraian di atas, dapat dipahami bahwa tasawuf dapat membangun di segala bidang kehidupan. Sebab, ia memiliki semua unsur yang dibutuhkan oleh manusia, semua yang dibutuhkan bagi realisasi kerohanian yang luhur, bersistem dan tetap berada dalam koridor syari’ah.
Abdul Muhaya, dalam tulisannya ‘Peranan Tasawuf dalam Menanggulangi Krisis Spiritual’ mempertegas bahwa tasawuf dapat dijadikan sebagai terapi krisi spiritual, karena beberapa alasan, yaitu:
1.      Tasawuf secara psikologis merupakan hasil dari berbagai pengalaman spiritual dan merupakan bentuk dari pengetahuan langsung mengenai realitas-realitas ketuhanan yang cenderung menjadi inovator dalam agama;
2.      Kehadiran Tuhan dalam bentuk pengalaman mistis, seperti ma’rifat, ittihat, hulul, mahabbah, dan sebagainya, dapat menimbulkan keyakinan yang sangat kuat aatau menjadi moral force bagi amal-amal shalih:
3.      Dalam tasawuf hubungan seorang hamba dengan Allah dijalin atas rasa kecintaan. Sehingga bagi seorang sufi, Allah bukanlah Dzat yang menakutkan, tetapi sebagai Dzat yang sempurna, Indah, pengasih dan Penyayang, Kekal, al-Haq, dan selalu hadir kapan pun dan di manapun.[v]

Jadi, relevansi tasawuf dengan problem manusia modern adalah karena tasawuf secara seimbang memberikan kesejukan batin dan disiplin syari’ah sekaligus. Ia bisa dipahami sebagai pembentuk tingkah laku melalui pendekatan suluk, dan mampu memuaskan dahaga intelektual melalui pendekatan tasawuf falsafi. Ia bisa diamalkan oleh setiap muslim, dari lapisan sosial manapun dan tempat manapun. Secara fisik mereka menghadap satu arah, yaitu Ka’bah, dan secara rohaniah mereka berlomba-lomba menempuh jalan (thariqah) melewati ahwal dan maqam menuju kepada Tuhan yang satu, yaitu Allah SWT.
Dengan demikian, pengamalan Tasawuf bagi masyarakat modern sesungguhnya masih relevan karena Tasawuf itu sendiri tidak dapat dipisahkan dengan Islam, Ia merupakan bagian dari Islam. Khusus bagi masyarakat modern pengamalan Tasawuf ini sangat diperlukan, terutama dalam mengantisipasi kehidupan yang serba kompleks.
 Kehidupan masyarakat modern ditandai dengan majunya ilmu pengetahuan dan teknologi modern. Dengan ilmu pengetahuan dan teknologi modern masyarakat akan dapat belajar dan memanfaatkan serta menguasai alam sekeliling­nya, sehingga ketergantungan orang-orang moderp lebih meningkat pada rasio atau akal. Hal ini menimbulkan arus baru hingga terjadinya perubahan masyanakat tenutama cara ben­fikir rasional, dinamis, kreatif, inovatif dan beronientasi kemasa depan. Selain itu gaya hidup, ekonomi, sosial, budaya dan lain-lain berubah mengikuti alur modernisasi.
Sikap dan pandangan sufistik ini sangat diperlukan oleh masyarkat modern yang mengalami jiwa yang terpecah sebagaimana disebutkan diatas. Dengan catatan, asalkan pandangan terhadap tujuan tasawuf tidak dilakukan secara ekslusif dan individual, melainkan merespon segala masalah yang diihadapi.
Kemampuan berhubungan dengan Tuhan ini dapat mengintegrasikan seluruh ilmu pengetahuan yang berserakan itu. Karena melalui tasawuf ini, seseorang di sadarkan bahwa sumber segala sesuatu, termasuk ilmu adalah Tuhan. Selanjutnya tasawuf melatih manusia agar memiliki ketajaman batin dan kehalusan budi pekerti. Sikap batin dan kehalusan ini akan membuat seseorang untuk mengutamakan pertimbangan kemanusiaan pada setiap masalah yang dia hadapi.
Demikian pula tarikat yang terdapat dalam tasawuf akan membawa manusia memiliki jiwa istiqomah dan jiwa yang selalu diisi dengan nilai-nilai ketuhanan. Ia selalu mempunyai pegangan dalam hidupnya. Keadaan demikian menyebabkan ia tetap tabah dan tidak mudah terhempas oleh cobaan yang akan membelokkan ke jurang kehancuran. Dengan demikian, stress, putus asa dan lainya akan dapat dihindari.
Poin terakhir problematika masyarakat modern diatas adalah kehilangan masa depannya, merasa sunyi dan kehampaan jiwa di tengah laju dunia modern. Menanggapi hal itu dalam tasawuf diajarkan untuk ibadah, berdoa, dzikir, taubah dan lain-lainnya. Inilah yang memberikan harapan pada kehidupan yang lebih bermakna, kehidupan yang lebih kekal yaitu akhirat.
Itulah beberapa sumbangan positif dari akhlak tasawuf dalam rangka memecahkan atau memberikan solusi atas beberapa permasalahan yang terjadi dalam dunia modern. Akhlak tasawuf benar-benar menjadi alternatif terbaik yang mampu diterapkan dalam konsep kehidupan manusia. Maka sudah sewajarnya, kita bersama menyisipkan sedikit demi sedikit akhlak tasawuf dalam kehidupan kita agar segala sesuatu menjadi seimbang dan bermakna.
Dasar dari tasawuf adalah mengikuti jejak Rasulullah serta para sahabat yang kesemuanya berpedoman kepada al-Qur’an dan Sunnah Nabi. Sedangkan tujuannya adalah untuk men­dekatkan diri kepada Allah sebagai pengabdian kepada-Nya, agar mencapai ma’rifat yang sebenarnya sehingga memperoleh nidha-Nya. Pengamalan Tasawuf pada pninsipnya sama dengan onang­-orang muslim lainnya, hanya berbeda pada metode atau teknik dalam pelaksanaan amalan sunnah seperti dalam pelaksanaan zikir.


[i] Danuyasa Asihwadji, Ensiklopedi Psikologi, Jakarta: Penerbit Arcan, 1996.
[ii] , Zakiyah, Daradjat, Ilmu Jiwa Agama, Jakarta: Bulan Bintang, 1983
[iii] Moh. Toriquddin, Sekularitas Tasawuf, Membumikan Tasawuf dalam Dunia Modern, Malang : UIN-Malang Press, 2008
[iv] Amin Syukur, Tasawuf dan Krisis, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001
[v] M. Pamungkas, Akhlak Muslim Modern, Bandung: Penerbit Marja, 1999